(T)ERROR(ISME) : Sang Pengkotbah Kematian

Namun, ketika Zarathustra sendirian, dia berkata dalam hatinya: “Mungkinkah itu menjadi mungkin! Orang suci tua ini di hutan belum mendengarnya, bahwa Tuhan sudah mati!.

Kalimat di atas adalah salah satu ucapan Nietsczhe yang akan terus diulang dalam karyanya berjudul Thus Spoke Zarathustra. Sejak penciptaan Adam dan Hawa, barangkali hanya Nietsczhe yang punya nyali sebesar gunung untuk memproklamasikan kematian Tuhan. Apakah Dia memang mati? Jelas tidak. Yang menjadi Kritik Nietzsche adalah bagaimana mungkin manusia yang katanya diciptakan secitra dan segambar denganNya justru mampu membunuh dan melakukan kekerasan terhadap sesamanya. Manusia Justru membunuh citra ilahi dalam dirinya. Dan karena kemampuan inilah, Nietzsche lantas mengumandangkan lahirnya Superman (Sang Manusia Super). Katanya, “Saya ingin mengajari manusia tentang eksistensi mereka, yaitu Superman, kilat dari awan gelap”.

Kisah Superman pun akhirnya sampai ke telinga Hitler. Tapi dalam diri Hitler, kisah ini tidak keluar melalui telinga satu lagi melainkan merasuk menjadi jiwa dan kehendak untuk berkuasa. Dan saat kehendak itu terwujud dalam ketidakmampuan menerima perbedaan, saat itulah teror lahir. Teror bukan lagi cara. Sekarang ia menjelma menjadi tujuan itu sendiri. Dampaknya? Liha saja tolak ukur media sosial: Riuh, kacau, selalu waspada,dan muncul banyak ocehan (babbler). Kita pun jadi sedikit err walau cuma sebentar.

Tulisan Yosias Polimpung menjadi setidaknya indikator pengamatan atas ocehan-ocehan yang perlu didisiplinkan dalam jejaring media massa. Terlalu serius, anak dan istri perlu makan. Mau bercanda, tidak pas waktunya. Ya, lebih baik diam dan ikut rasakan. Begitu kira-kira kesepakatan tak tertulis yang muncul dalam media online. Uhmmmm……eh, susah juga menaati kesepakatan ini. Dalam media yang penuh aksi dan reaksi, sebagaimana hukum fisika, untuk tidak memberikan tanggapan atau setidaknya sedikit analisa atas peristiwa di luar common sense sama halnya seperti makan sayur asem tapi asemnya gak terasa. Dan ini mulai dari pendidikan, keikutsertaan anak dan perempuan sampai pada ganti presiden. Luar biasa. Saking luar biasa muncullah frasa politisasi terorisme. Dan kegaduhan pun tambah marak. Mungkin benar, sebagaimana tulisan Acep Iwan Saidi di Kompas 17 Mei, kita terjebak dalam keributan itu sendiri. Mau meredam teror, tapi malah meributkan hal-nya sampai lupa kalau setidaknya kita bisa menaikkan bendera setengah tiang di rumah atau kantor.

Negara yang terus menerus gaduh lama-lama akan jatuh juga. Sudah banyak contohnya dari kekaisaran Roma hingga Negara Modern. Pemimpin yang kuat pun jika dirongrong kegaduhan lama kelamaam juga bisa mengambil tindakan gaduh. Dan kata Nietzsche melalui mulut Zarathustra, seorang pahlawan justru muncul dari masalah dan adanya teror.

“A trouble and a terror is the hero to them. But by my love and hope I conjure thee: cast not away the hero in thy soul! Maintain holy thy highest hope”

Ditulis pada Uncategorized | Tag , , | Tinggalkan komentar

(Merindukan) Totalitarianisme (Melawan) Terorisme

Salah satu pemikiran Machiavelli yang terkenal adalah gagasannya mengenai pemimpin totaliter. Dampak pemikirannya juga luas di masa Renaisans. Yang kemudian membedakan adalah kesalahpahaman dalam memahami gagasannya. Seringkali dan umumnya, sifat kejam, tragis, destruktif dilekatkan pada pemikiran Machiavelli secara mutlak. Apakah pemikiran Machiavelli memang tanpa pengandaian apa pun? Tampaknya bahwa gagasan demikian jelas tidak dibangun atas dasar situasi sosial yang benar-benar aman dan damai sebagaimana studi sejarah atas situasi politik-sosial Republik Florence di mana Machiavelli hidup. Lanjutkan membaca

Ditulis pada Serius Dikit... | Tag , , | Tinggalkan komentar

Foucault dan Kekuasaan (Sekedar Review)

Foucault (credit to The Ethics Centre)

Dalam seluruh karyanya yang bertemakan kekuasaan, Foucault sama sekali tidak berminat membahas pengertian konsep kekuasaan. Yang ia analisa sesungguhnya adalah relasi-relasi kuasa, yaitu bagaimana kuasa itu dilaksanakan. Dan pelaksanaan kuasa ini ternyata tidak dapat dipisahkan dari kebenaran. Di mana ada kuasa, di sana juga ada kebenaran. Bahkan, kebenaran sungguh merupakan efek dari relasi-relasi kuasa. Dengan kata lain, kebenaran tak pernah berada di luar kuasa.[1] Kebenaran harus dimengerti sebagai praktik kuasa. Lanjutkan membaca

Ditulis pada Tokoh | Tag , , | Tinggalkan komentar

C.H. Cooley – Masyarakat Sebagai Cermin

Charles Horton Cooley

Charles Horton Cooley dilahirkan di kota Ann Arbor, di negara bagian Michigan, Amerika Serikat. Di sini ia belajar pada Universitas of Michigan dan lulus pada tahun 1887. Pada universitas yang sama pula ia menjadi mahaguru selama 37 tahun. Selama hidupnya Cooley telah menghasilkan beberapa karya dan diantaranya yang cukup terkenal adalah Human Nature and Social Order (1902), Social Organization (1909) dan Social process (1918). Pemikiran Cooley dalam bidang sosiologi lebih merupakan suatu reaksi terhadap pandangan mekanisme dan organisme dari para sosiolog sebelum Cooley. Lanjutkan membaca

Ditulis pada Tokoh | Tag , , | Tinggalkan komentar

Hidup itu Indah

Beberapa tahun lalu, seorang teman menceritakan sebuah kisah. Bukan kisah komedi, tragedi atau pun campuran keduanya. Hanya kisah hidup. Sebuah kisah yang muncul karena manusia perlu melihat kembali ke belakang supaya ia paham ke mana ia mau melangkahkan kakinya kelak. kenapa harus ber-kisah? Ya karena mau diungkapkan secara ilmiah tidak bisa. Mau dinyatakan dalam rumus pun ya tidak mungkin. Dalam kisah ada makna. kita hanya perlu berkisah/bercerita agar makna itu hadir. Dan inilah kisahnya……… Lanjutkan membaca

Ditulis pada Cerita Kehidupan | Tag , , | Tinggalkan komentar

Waktu dan Kisah

credit to Hipwee

Suatu ketika, ketika sedang duduk santai menikmati kopi di sebuah warung depan sebuah kampus, saya melihat dua orang sedang berpacaran. Mereka tidak sadar jika saya memperhatikan apa yang mereka percakapkan. Atau bahkan mereka sendiri tidak sadar jika sedang dilihat banyak orang di situ. Gurauan, tertawa, mimic wajah manja, senggol—senggolan. Ah, dunia memang milik mereka berdua. Saya sampai merasa bahwa saya cuma kontrak saja di dunia. Sampai suatu saat di mana mereka berdua kemudian saling melontarkan kata…. Lanjutkan membaca

Ditulis pada Cerita Kehidupan | Tag , , , | Tinggalkan komentar