Kekeraaan Atas Nama Agama

Sungguh menyedihkan melihat fenomena kekerasan akhir-akhir ini apalagi yang bernuansa SARA. Kekerasan bukan semata persoalan siapa salah siapa benar atau kelompok itu salah dan kelompok ini benar. Bukan itu soalnya. Persoalan utama kita dan bangsa ini adalah membiarkan adanya ideologi kekerasan yang dapat dengan mudah merasuki bangsa ini. Cukup aneh bagi saya bahwa keutamaan-keutamaan yang diajarkan oleh nilai-nilai budaya, ajaran agama, tradisi justru sulit dilaksanakan – untuk tidak mengatakan bahwa nilai-nilai itu kolot dan usang dibandingkan dengan era modernitas ini.

Sebuah ideologi memang memiliki karakter utama, yaitu memaksakan nilai-nilainya. Akibatnya, ideologi lain yang berlawanan dan bertentangan dengannya harus dimusnahkan dan disingkirkan (atau bila ada sikap kompromistis, ideologi lain akan ditempatkan di bawah ideologi utama ini). Fenomena kekerasan atas nama agama yang akhir-akhir ini terjadi bukan lagi suatu kebetulan. Kekerasan sudah menjadi sebuah ideologi. Pertanyaan klasik, apakah agama mengajarkan kekerasan? Saya kira semua sepakat untuk menjawab tidak. Ini jelas karena agama dan nilai-nilainya tidak dapat membiarkan adanya kontradiksi di dalam ajarannya sendiri. Lantas, mengapa ada banyak fenomena kekerasan atas nama agama? Lalu, mengapa fenomena kekerasan seakan mudah muncul dengan mengatasnamakan agama?

Di dalam apa yang dinamakan fenomena terkandung sebuah rajutan dengan apa yang menyebabkan halnya (tindakan kekerasan) itu muncul. Tindakan kekerasan tidak pernah berada dalam ruang kosong. Atau dengan kata lain, sebuah tindakan pasti memiliki konteksnya. Dan inilah yang terjadi: untuk pembenaran sebuah tindakan kekerasan, agama merupakan lahan paling subur bagi hal ini. (Seolah-olah) agama dan karena itu Tuhan memang menghendaki tindakan kekerasan itu sendiri. Dalam sejarah peradaban manusia, prinsip seperti ini sangat amat merusak rasa kemanusiaan. Bagaimana mungkin manusia yang dianugerahi akal budi dan kebebasan oleh Sang Pencipta dapat berbalik melawan Penciptanya.

Kita semua percaya bahwa Pencipta kita mengharapkan kita semua dapat hidup rukun dan damai dalam masyarakat. Rukun dan damai adalah terminologi khas manusia. Dikatakan khas karena manusia memiliki tindakan manusiawi yang memampukan dia untuk mencapai tujuan itu. Tiap manusia apa pun suku, bahasa dan adat-istiadat pasti menghendaki suasana hidup yang rukun dan damai. Inilah cita-cita tiap individu manusia dan sekaligus poin inilah yang mengisi hak dan kewajiban seseorang satu sama lain, golongan satu terhadap golongan yang lain. Wujud dari pencapaian tujuan ini adalah melalui tindakan. Jika menyimak apa yang terjadi dengan fenomena kekerasan, dapat dikatakan bahwa tindakan kekerasan karena itu berarti negasi terhadap tujuan mencapai hidup yang baik dalam kebersamaan.

Sebagai umat beriman dan kaum beragama, pemahaman kita langsung mengarah pada poin bahwa tujuan ke arah hidup yang baik dalam hidup bermasyarakat karena itu memang dikehendaki Pencipta. Di sini, ada beberapa hal yang kiranya perlu diperhatikan secara seksama. Pertama, bahwa kehendak Pencipta sekaligus adalah perintahNya. Dengan kata lain, akal budi (rasionalitas) manusia menangkap bahwa sesuatu itu diperintahkan karena baik dan bukan sebaliknya.

Sekarang kita lihat fenomena kekerasan. Apakah tindakan kekerasan itu baik? Akal budi pasti sulit menerima bahwa tindakan kekerasan apalagi merugikan sesama adalah baik. Jika ada yang berpendapat bahwa tindakan (kekerasan) yang ia lakukan atas nama agama dan karena itu (sekali lagi) seolah-olah Tuhan sepakat dengan apa yang ia lakukan, Yang Baik (baca : Tuhan) pasti memiliki kontradiksi di dalam diriNya. Yang Baik tidak mungkin membiarkan keburukan berada dalam diriNya.

Kedua, perintah yang diturunkan Tuhan dalam Kitab Suci masing-masing agama memiliki konteksnya. Dan di dalam konteks itu, Tuhan mau mengajarkan kepada umatNya apa (halnya) yang perlu bagi kebaikan mereka. Sebuah tafsiran atas kehendak Tuhan waktu itu bukan menisbikan isi dari kehendak Tuhan. Tafsiran untuk konteks kita sekarang – apalagi dalam masyarakat multikultur – diperlukan supaya apa yang menjadi kehendak Tuhan terus berlaku sepanjang masa. Mengapa perlu adanya tafsiran? Karena dewasa ini, pola relasi hidup manusia semakin kompleks, pilihan cara hidup manusia pun beragam, belum lagi munculnya persoalan moral-etis yang membutuhkan tanggapan dan penilaian dari ajaran agama.

Kasus kekerasan atas nama agama jelas tidak dapat dibenarkan. Ketika agama diatasnamakan, bukan lagi agama yang menjadi dasar tindakan, melainkan kekerasan itu sendiri telah menjadi fondasi bagi tindakan. Pada poin ini, kekerasan menjadi ideologi yang bernaung atas nama agama. Hilangnya fondasi agama mengakibatkan bukan hanya wajah asli agama itu kabur melainkan juga secara ontologis menghina Tuhan Sang Kebaikan itu sendiri. Inilah yang sekarang menjadi perhatian bahwa kritik-kritik yang dilontarkan terhadap kekerasan demikian memang sekarang tidak ditujukan lagi kepada agama itu sendiri melainkan kepada para pelakunya.

Akhirnya harus dikatakan bahwa tindakan kekerasan tidak pernah berada dalam ruang kosong. Tindakan kekerasan membutuhkan konteks dan Agama menjadi lahan subur bagi pembenaran tindakan seperti ini. Saya sepakat dengan mereka yang mengatakan bahwa agama tidak pernah mengajarkan kekerasan. Kekerasan sebagai keburukan tidak pernah dapat diperdamaikan dengan kebaikan. Agama justru mengajarkan kebaikan serta keutamaan-keutamaan yang perlu bagi hidup dalam masyarakat.

Tulisan ini dipublikasikan di Serius Dikit... dan tag , , . Tandai permalink.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of