Believe in…

image

Ada seorang PSK yang selalu menghabiskan liburannya di Bali. Ia adalah seorang PSK yang cukup terkenal di Surabaya. Entah mulai kapan ia berada dalam dunia gelap ini. Tapi yang jelas, ia tidak pernah berkehendak untuk jadi PSK selain demi anaknya yang lahir tanpa ayah. Dan ada pula seorang kaya yang cukup rajin berdoa, taat tapi sayangnya ia memilih jalan hidup yang banyak orang mengatakannya sebagai teroris. Walaupun demikian ia tidak pernah menyesal untuk menjadi seorang teroris. Karena ia pernah berkata bahwa hal-hal duniawi tidak ada gunanya jika dibandingkan dengan pahala yang diterima di surga nanti. Pada kesempatan liburan, baik PSK dan si Teroris ini berangkat ke pulau Bali. Keduanya memiliki maksud yang berbeda untuk liburan ini. Dan mungkin, hanya kebetulan saja bahwa mereka berdua akhirnya bertemu sesaat, tanpa perasaan apa pun.

Geliat kegiatan di Kafe itu memang membuat banyak tamu yang mampir ke situ sekedar untuk bercengkerama, ngobrol, menonton hiburan, segala kegiatan rileks lainnya. Dari bule, orang Indo, sampe orang dalam negeri sendiri termasuk PSK itu. Tampaknya, dengan sebatang rokok di tangan, ia menikmati betul hidup ini. Tanpa beban. Banyak orang yang dilihatnya di dalam kafe itu tapi ia tidak peduli. Bahkan mungkin kalau ada bencana pun ia tak akan ambil pusing. Ia capek dan lelah. Kalaupun ia dapat bertahan hidup itupun karena dan demi anaknya, darah dagingnya. Senyum dan kepolosan seorang anak yang tanpa noda itulah yang sampai saat ini menguatkan dia. Deodatus, demikian nama anaknya. Kata orang arti nama itu adalah “Yang diberikan oleh Allah”. Mengingat hal ini ia tersenyum kecut. Pikirannya menerawang ke masa di mana ia dulu adalah seorang anak juga. Tapi, batinnya terguncang, anak ini bukanlah seperti arti nama anak itu. Terus ia berpikir sampai kemudian ia tertidur di kursinya. Di antara sadar dan tidak, ia masih mendengar sebuah ledakan keras.

Saat ia membuka matanya, perempuan itu heran. Banyak orang di sekitarnya yang berwajah dingin seakan tidak ada darah yang mengalir di wajah mereka. Hmm…tempat apa ini, pikirnya. Sedang perempuan itu duduk terpaku di tempatnya, datanglah seorang tua yang lanjut usianya. Rasanya pernah bertemu, kata perempuan itu dalam hati, tapi di mana. O..iya, baru ia mengingatnya. Orang tua itu ketika mendekatinya tidak mengatakan apa-apa, ia hanya mengajak dan memegang tangan perempuan itu lalu menuntunnya pada suatu…..jurang. Di kejauhan, di seberang jurang itu, perempuan itu melihat banyak orang juga, tapi mengapa mereka berada di sana.

Si teroris tadi berada di tengah-tengah kerumunan orang itu. Keyakinannya bahwa ada hidup sesudah kematian ternyata benar dan terbukti. Ia berjalan hendak melihat ada apa di sekitarnya. Dan ia pun akhirnya sampai ke tepi jurang juga. Ia melihat ke bawah, gelap, curam, dan terjal. Ia mencoba untuk berteriak. Tapi dari bawah jurang itu tidak ada suara yang kembali. Sekali lagi ia mencoba, tapi hasilnya tetap sama, tidak ada suara dari bawah jurang itu. Melihat bahwa usahanya sia-sia, maka ia pun mencoba untuk melihat ke bagian jurang di seberangnya. Di sana ada dua orang yang berdiri seperti dia. Tapi siapa mereka, pikirnya.

Terdengarlah suara dari seberang jurang itu, “Akulah Abraham yang kamu akui sebagai bapa leluhur kaum beriman”. Kaget bercampur senang, si Teroris itu berkata, “Bapa Abraham, mengapa aku berada di sini? Izinkanlah aku untuk menyeberang ke sana agar aku bisa bertemu engkau?” Sahut Abraham, “Tidak bisa anakku.” Lalu si Teroris itu menjawab, “Mengapa tidak bisa? Aku khan anakmu juga.” Keadaan di tempat ia berdiri itu semakin bertambah panas dan panas, bau menyengat hidung tersebar kemana-mana. Akibat kepanasan yang sangat itu, ia menjadi sangat haus. Katanya tiba-tiba memohon, “Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah perempuan itu, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam panas yang sangat ini ini.” Tetapi Abraham berkata, “Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, tapi engkau memilih jalan lain sedangkan perempuan itu segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.” Kata orang itu, “Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku yang mengikuti langkahku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.” Tetapi kata Abraham, “Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.” Jawab orang itu, “Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.” Kata Abraham kepadanya, “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”

 

Use Your Imagination and Reason

Tulisan ini dipublikasikan di Cerita Kehidupan dan tag , , . Tandai permalink.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of