Berteologi dari perspektif Neo-Kantianisme

Sebelum berteologi dari aliran ini, sebelumnya penulis berusaha melihat kembali pemikiran Kant mengenai Allah. Karena itu, pembahasan ini akan dibagi menjadi 2 bagian, yakni panorama pemikiran Kant mengenai Allah dan berteologi dari sudut pandang ini.

Pemikiran Kant Mengenai Allah

Pemikiran Kant mengenai agama sesungguhnya berasal dari reaksi terhadap bukti ontologis tentang eksistensi Allah sebagaimana dijelaskan oleh Wolff dan Leibniz. Bagi Wolff dan Leibniz, eksistensi Allah dapat dibuktikan secara teoritis. Artinya, bahwa konsep ‘Allah ada’ sesungguhnya menunjukkan eksistensi atau keberadaan Allah. Pengertian atau konsep ‘ada’ di sini merujuk pada apa yang ada dalam ruang dan waktu. Dengan kata lain, ada dilihat sebagai predikat sebagaimana terdapat dalam objek-objek yang mendiami ruang dan waktu. Implikasinya, konsep bahwa ‘Allah ada’ menjadi konsep konstitutif bagi segala sesuatu yang lainnya. Konstitutif berarti Allah menjadi alasan atau penjelasan terakhir bagi apa yang terjadi dalam dunia dan bahkan menjadi dasar kausalitas terakhir bagi adanya dunia beserta isinya.

Kant menolak pemikiran demikian. Bagi Kant, eksistensi Allah tidak bisa ditarik dari konsep bahwa Allah ada. Konsep ini keliru. Mengapa? Karena ‘ada’ (eksistensi) itu bukanlah predikat sebagaimana dalam pengertian keluasan yang diperuntukkan bagi benda-benda objektif dalam ruang dan waktu. Untuk mengatakan sesuatu itu ada, tidaklah berarti mempredikasikan suatu hal di mana ketika hal tersebut (dalam hal ini pengertian ‘ada’) tidak ada, konsepnya pun menjadi tidak bermakna. Allah itu ada, tapi bahwa adaNya tidak dapat dibuktikan tidak dapat menjadi dasar pernyataan bahwa Allah lenyap, tidak ada, atau tidak bisa dipikirkan. Karena itu, Kant berusaha mencari jalan lain selain jalan bukti teoritis ini dengan mendisiplinkan kemampuan akal budi. Kemampuan budi manusia itu terbatas, maka tidak mungkin budi manusia melampaui apa yang bisa dijangkaunya. Pendisiplinan inilah yang disebut oleh Kant dengan kritik terhadap akal budi.

Ketika pendekatan terhadap eksistensi Allah melalui jalan teoritis tidak dapat dilakukan, maka jalan satu-satunya yang tersisa adalah apa yang Kant sebut jalan praktis. Praktis mengartikulasikan moral, yakni penggunaan budi manusia untuk menentukan baik-buruk dalam kehidupan konkret sehari-hari. Umumnya ini disebut dengan argumen moral. Karena itu, yang menjadi pertanyaan mendasar Kant adalah untuk apa manusia berbuat baik. Dan dipihak lain, bagi Kant, Allah memang tidak dapat dibuktikan keberadaanNya. Allah hanya diandaikan ada. Allah dilihat sebagai postulat yang berarti diandaikan benar demikian. Implikasinya, Allah lantas dipahami sebagai pemberi arah atau dalam bahasa Kant Allah menjadi prinsip regulatif yang memberi penjelasan kausalitas dalam tatanan ruang dan waktu di dunia ini. Agama dengan demikian berada di bawah penjelasan moral ini. Usaha Kant ini, dengan demikian, membalikkan cara berpikir metafisika sebelumnya dengan melepaskan dasar ontologis dari penjelasan metafisis mengenai Allah. Dengan demikian, Allah dalam pemikiran Kant berada dalam struktur kategoris akal budi.

Berteologi

Setelah melihat pemikiran Kant di atas dan secara tidak langsung bagaimana Kant memahami agama, pembahasan ini berusaha untuk berteologi dari sudut pandang pemikiran Kant tersebut dalam konteks Indonesia dewasa ini.

Sama seperti negara-negara lain, Indonesia pun mengalami tantangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi. Budaya teknologis seperti layar LCD sudah masuk ke dalam Gereja-gereja di kota besar, seminar atau pun kursus teologis yang bertujuan semakin memahami nilai dan pesan Yesus pun sudah banyak dilakukan, adanya fenomena gerakan karismatis yang ramai diikuti, dan lain sebagainya. Semuanya ini mengindikasikan pencarian manusia akan Allah. Mengapa Allah dicari? Barangkali mereka merasa bahwa Allah sudah hilang dari hidup mereka sehingga usaha apa pun dilakukan untuk menenangkan kembali perasaan hati yang gelisah. Tapi, apakah Allah benar-benar ada? Kalau ada, bagaimana merasakannya atau memikirkannya? Poin ini hendak menegaskan kembali perlunya fungsi kritik terhadap budi manusia. Namun, di pihak lain, budi manusia menuntut adanya penjelasan terakhir bagi hidupnya. Untuk apa? Supaya tiap perbuatan yang dilakukan dapat menghantar pada apa yang disebut dengan kebahagiaan. Tapi, setelah melihat gagasan Kant mengenai Allah dalam penjelasan di atas, berteologi dari perspektif Kant berarti bersoal jawab dengan perbuatan manusia yang berkaitan dengan keutamaan hidup moral dan secara langsung pula dengan poin kebahagiaan.

Agama Kristiani adalah agama cinta kasih. Dikatakan demikian karena arti menjadi manusia diletakkan pada dasar perbuatan (bdk. Mat 25: 31-46). Mengapa perbuatan? Karena perbuatan menunjukkan apa yang ada dalam diri manusia, yakni keyakinan. Terminologi religius menyebutnya dengan iman kepada Allah. Akan tetapi, keyakinan ini belum cukup memenuhi sebagai syarat keutamaan hidup moral. Mengapa? Lantaran keyakinan itu sendiri dapat disalahgunakan untuk tujuan buruk. Inilah yang kemudian terjadi pada gerakan-gerakan kekerasan atas nama agama. Keyakinan agama menjadi dasar penilaian realitas padahal di pihak lain agama itu sendiri adalah suatu realitas. Agama seolah-olah mengangkat dirinya menjadi tuhan dan karena itu tidak dapat salah. Inilah kritik paling tajam yang datang dari ilmu empiris dan positivisme. Lantas, apa yang menjadi kriteria perbuatan manusia ketika agama tidak lagi dapat diandalkan? Menurut Kant satu-satunya kriteria adalah kehendak baik. Dengan kata lain, kehendak baik merupakan prinsip tertinggi yang merupakan hukum moral bagi perbuatan manusia.

Dalam dirinya kehendak baik selalu mengarah kepada kebaikan. Tapi, kehendak sebagai kehendak belumlah dapat dinilai. Kehendak ini mesti diwujudkan dalam tataran praktis. Artinya, kehendak baik ini mesti tampil dalam bentuk-bentuk perbuatan. Tempat di mana perbuatan manusia itu tampil adalah dalam komunitas. Mengapa komunitas? Karena setiap pribadi yang berjumpa satu sama lain hendak atau berusaha menyadari dan mewujudkan kebaikan dan ini dapat dicapai dalam relasi yang bebas dengan orang lain. Dalam banyak hal, agama Kristiani dewasa ini memang berusaha untuk belajar dan menghayati bagaimana komunitas pertama di Yerusalem menjalankan dan menghayati pesan-pesan Yesus. Di lain pihak, komunitas pertama tersebut, selain para rasul, tidak mengalami Yesus secara fisik. Tapi, mereka menjalankan pesan-pesan itu secara bebas. Kebebasan di sini lantas menjadi poin penting untuk mengerti halnya relasi dalam hidup berkomunitas.

Poin kebebasan di atas memaksudkan bahwa perwujudan hukum moral hanya dapat dilaksanakan dalam kebebasan itu sendiri. Hal ini berkaitan dengan pemahaman bahwa pesan Yesus adalah pesan moral yang berlandaskan pada ajaran kasih. Dalam arti tertentu, manusia tidak mungkin bisa meletakkan kebebasan dalam ruang kosong. Kebebasan itu tampak dalam pilihan perbuatan manusia. Inilah yang membuat hukum moral bisa berlaku lantaran ada kebebasan. Selain itu, perbuatan hanya dapat dipahami dalam relasinya dengan sesama. Kehadiran sesama inilah yang kemudian menciptakan akal budi. Akal budi lantas menciptakan hukum yang mengatur dan yang memberi bentuk pada perbuatan manusia dalam relasi dengan sesamanya. Dengan melaksanakan hukum moral dalam batinnya, manusia lantas dapat mencapai kebahagiaan. Tapi, ini tidak berarti bahwa akibat perbuatan itulah yang menghasilkan dan memberi kebahagiaan. Justru sebaliknya, yakni melaksanakan kewajiban dalam batinnya itulah yang menjadikan seorang bahagia. Prinsip demikian mesti terdapat juga dalam diri orang lain. Moralitas di sini karena itu dapat dimengerti sebagai kesesuaian sikap dan perbuatan seseorang dengan norma atau hukum batiniahnya yang dilihat sebagai kewajibannya. Dengan kata lain, hukum batiniahnya adalah kewajiban manusia itu sendiri. Pemahaman ini lantas menghantar pada pemahaman selanjutnya bahwa manusia itu pada dasarnya bukan semata ada yang mengetahui, melainkan juga ada yang menghendaki dan bertindak. Manusia menghendaki karena ia menghendaki yang baik dan itu terwujud dalam dan melalui perbuatan atau tindakannya.

Tapi bagaimana manusia mengenal bahwa hukum batiniahnya itu baik adanya? Dalam pemahaman di atas gagasan Allah perlu dimengerti. Pada poin tersebut, Allah lantas menjadi penjamin bahwa kewajiban manusia itu sungguh-sungguh baik. Hal ini membawa implikasi yakni bahwa agama sesungguhnya merupakan pengakuan kewajiban-kewajiban manusia sebagai perintah ilahi. Dengan kata lain, agama diletakkan di bawah moralitas. Penulis melihat bahwa pengertian relasi moralitas dan agama yang demikian ini terwujud dalam apa yang disebut Komunitas Basis Gerejani. Struktur budi manusia lantas memungkinkan terciptanya kehidupan yang harmonis dan damai dalam komunitas. Penghayatan pesan moral Kristus yang dilakukan dalam kehidupan komunitas dapat menjadi acuan bahwa manusia selain terdorong oleh kewajibannya membantu sesama juga sekaligus merupakan tujuan bagi dirinya sendiri. Karena itu, dalam komunitas penghargaan akan martabat dan harkat manusia sebagai manusia terlihat dengan jelas. Komunitas menjadi penyalur rahmat dan anugerah Kristus. Relasi demikian menghumanisasikan manusia kembali sebab dasar dan tolak ukur ini bukan tentang ajaran-ajaran Gereja ataupun soal-soal mengenai Allah tetapi pribadi-pribadi manusia yang konkret, yang hidup dalam sejarah dunia ini. Jika setiap manusia dapat melakukannya, kebahagiaan manusia dapat tercapai dalam dunia ini.

Pemikiran mengenai keutamaan hidup moral memang telah dicetuskan oleh Gereja Indonesia dengan menyatakan perlunya habitus baru dalam menyikapi perkembangan dunia ini. Habitus baru itu menandaskan kembali perlunya sikap moral manusia terhadap sesamanya dan dunia. Ketika manusia diperhadapkan dengan tuntutan efektivitas waktu, hasil kerja, prosedur dan lain sebagainya, manusia pasti menghadapi aneka pilihan yang perlu dilakukan. Pilihan inilah yang menjadikan manusia itu dewasa. Dalam konteks agama Kristiani, pilihan ini tampak dalam iman. Namun, iman itu sendiri belum mencukupi sebagai dasar perbuatan moral. Dimensi sosial iman itulah yang kiranya perlu dikembangkan lebih lanjut dalam kemauan membantu sesama melalui komunitas. Penulis menyadari bahwa Komunitas Basis Kristiani itu sendiri hanyalah bentuk bagi usaha penghayatan iman. Untuk wujud konkret bagaimana iman itu dihayati dalam kehidupan konkret-aktual, hal tersebut perlu memperhatikan konteks situasi dan kondisi yang dihadapi oleh kaum beriman.

Catatan Kritis

Perbuatan manusia jelas memerlukan pendasaran metafisis supaya manusia mengetahui untuk apa ia berbuat kebaikan. Tapi kehadiran ilmu empiris dan positivisme menjadikan pendasaran metafisis demikian perlu dibuktikan melalui pengalaman. Mengapa perlu dibuktikan? Karena apa yang tidak dapat dibuktikan dalam dan melalui pengalaman, pendasaran tersebut kehilangan legitimasinya sebagai sebuah pendasaran. Pukulan telak jelas jatuh pada agama. Agama lantas mencoba mencari cara baru untuk menjelaskan hal ini. Dalam bidang filsafat, salah satu yang diusahakan adalah dengan merujuk kembali pada pemikiran Kant mengenai akal budi praktis dan hidup moral. Tetapi, usaha para tokoh Neo-Kantianisme tidaklah tanpa celah. Sebagaimana dikatakan Karl Jasper, para pemikir tersebut mengabaikan batas-batas yang ditetapkan oleh Kant terhadap akal budi. Mereka mengubah akal budi menjadi roh dan pikiran menjadi pikirannya Allah. Cohen misalnya berkata bahwa revelasi kehendak Allah itulah yang menjadikan manusia rasional. Dengan kata lain, revelasi menciptakan akal budi. Titik lemah Cohen terletak pada pemahamnnya mengenai revelasi itu sendiri. Cohen melihat revelasi itu seolah-olah realitas itu sendiri. Padahal revelasi hanyalah satu penampakan saja, semacam satu keterangan mengenai realitas yang tersembunyi dari akal budi. Pada Natorp, titik lemahnya terletak pada pemahamannyan mengenai perasaan religius. Ia melihat bahwa perasaan religius tidaklah memiliki tujuan apa pun juga. Perasaan ini mengubah dan menggantikan kategori budi manusia dalam menilai dan memutuskan pilihan tindakan manusia. Implikasinya, tiap fenomena yang masuk ke dalam diri manusia lantas tidak dapat diputuskan dalam suatu pengertian dan karena itu juga dalam relasi kausalitas. Padahal perbuatan manusia itu selalu berkarakter konkrit dan subjektif yang terjadi dalam ruang dan waktu.

Pada umumnya, titik lemah yang diperlihatkan para filsuf Neo-Kantianisme tidak terlepas dari kelemahan pemikiran Kant sendiri. Pertama, ketika Kant melepaskan dasar ontologis dari penjelasan kausalitas yang terjadi adalah bahwa realitas itu sendiri tidak dapat dikenal. Manusia hanya mengenal apa yang ditampakkan oleh realitas. Karena itu apa yang menjadi pengetahuan manusia sesungguhnya hanya merupakan keterangan-keterangan mengenai realitas itu sendiri. Kedua, mengenai perbuatan moral. Hukum moral Kant tidak memuat isi dari perbuatan, melainkan syarat manusia untuk berbuat. Syarat inilah yang diharapkan Kant menjadi prinsip universal bagi tindakan manusia. Implikasinya adalah Kant menolak apa yang datang dari luar termasuk perasaan dan nilai. Tapi, sebagaimana dikatakan oleh Max Scheler, manusia menaati kewajibannya bukan demi kewajiban itu sendiri melainkan ia menyadari sesuatu sebagai kewajibannya karena sesuatu itu mempunyai nilai. Jadi sikap moral berkaitan dengan nilai. Dan terakhir, Kant melepaskan akibat perbuatan dari kodrat perbuatan itu sendiri. Dengan kata lain, sebagai sebuah tindakan moral, perbuatan dalam diri dirinya tidak mempunyai kekuatan untuk menghasilkan atau memproduksi sesuatu.

Dari sisi teologis, para teolog seperti Albercht Ritschl, Wilhelm Herrmann, dan Adolf von Harnack menekankan moralitas di atas intelektualisasi yang berlebihan terhadap pribadi Kristus dan agama Kristiani. Moralitas yang dimaksud di sini adalah moralitas yang ditunjukkan oleh pribadi historis Yesus. Implikasinya, mereka membatasi pengetahuan pada wilayah realisme wahyu historis tertentu dan dalam hal ini wahyu itu adalah pribadi Yesus. Memang gambaran Yesus historis dapat ditemukan dalam Injil tapi tidak semuanya digambarkan. Lagi pula, dari penyelidikan kritis-ilmiah terhadap Yesus sebagaimana terdapat dalam Injil, tidak mudah untuk menemukan gambaran Yesus yang sesungguhnya. Banyak hal merupakan tambahan dari para muridNya. Inilah yang menyulitkan penghayatan iman konkret dalam dunia dewasa ini. Ritschl, misalnya, mengatakan kesatuan moralitas dan agama terungkap dalam kehidupan etis Yesus. Hermann bahkan melihat iman sebagai penempatan manusia ke dalam keadaan baru dengan melihat Kitab Suci sebagai semata sarana untuk itu. Ringkasnya, imanlah yang menyelamatkan manusia. Sementara Harnack berpendapat bahwa pribadi Yesus dan pengaruhnya kepada orang lain hingga hari inilah yang harus diperhatikan. Keutamaan hidup moral Kritus menjadi poin penting di mana kemudian Harnack menyimpulkan agama adalah jiwa moralitas dan moralitas menjadi tubuh agama. Dalam agama Kristiani, Injil adalah pesan yang memastikan manusia akan hidup abadi dan yang menyampaikan nilai dari segala sesuatu.  Pengetahuan memang penting (pengetahuan mengenai Injil dan hidup Yesus), akan tetapi pengetahuan demikian bukanlah merupakan esensi Injil. Memang tidak selalu mudah untuk menemukan iman dan teologi Perjanjian Baru.

 

Acuan Tambahan

Tjahjadi, Lili. Hukum Moral: Ajaran Kant tentang Etika dan Imperatif Kategoris. Yogyakarta: Kanisius, 2001.

Kant’s Philosophy of Religion dalam www.stanford.edu/philosophy.html (diakses tanggal 5 Oktober 2008).

Tulisan ini dipublikasikan di Tokoh dan tag , , . Tandai permalink.

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Neo-Kantianisme (Sebuah Pergumulan Filsafat Agama Abad 20) « Aurelius Ratu Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] ke berteologi dari perspektif Neo-kantianisme Share this:TwitterFacebookLike this:LikeBe the first to like this. Comments RSS […]