Evangelisasi dan Multikulturalisme

No peace among the nations without peace among the religions. No peace among
religions without dialogue between the religions. No dialogue between the religions
without investigation of the foundation of the religions.
(Hans Küng)
image

Sudah banyak buku yang mengupas persoalan bagaimana agama (khususnya Injil) seharusnya dihayati oleh orang-orang yang menerimanya. Jika dapat disimpulkan, maka salah satu benang merah yang dapat ditarik dari pembahasan-pembahasan tersebut adalah bahwa pribadi manusia beserta keadaan situasi yang membentuknya harus selalu menjadi titik pangkal dan hubungan antar manusia serta cara hubungan manusia dengan yang ilahi harus diperhatikan juga. Kita mungkin bertanya mengapa pribadi manusia menjadi titik pangkal dalam apa yang disebut dengan evangelisasi.

Realitas bahwa situasi umat manusia itu bernaneka ragam merupakan suatu hal yang tidak dapat dibantah. Realitas situasi atau keadaannya dibangun berdasarkan pada interaksi dengan apa pun yang ada di sekitarnya. Lantas, bagaimana usaha Gereja untuk menghadirkan iman dalam situasi konkret umat manusia yang berbeda ini dan bagaimana peran Gereja sendiri dalam masyarakat yang multikultur. Iman adalah sesuatu yang melampaui apa yang dapat dilihat. Apa yang dilihat hanya merupakan pengejawantahan dari apa yang diyakini dan dihayati oleh seseorang atau sekelompok orang.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini perlulah kita memahami terlebih dahulu dua istilah yang akan menjadi poin kunci dalam pembahasan di sini, yakni evangelisasi dan kebudayaan. Pertama, pengertian evangelisasi pada dasarnya dapat dirumuskan sebagai upaya mewartakan Kristus kepada mereka yang belum mengenalNya (khotbah, berkatekese, memberikan sakramen dan sebagainya). Tapi, realitas evangelisasi harus tidak memihak dan tidak fragmentaris. Kedua, kebudayaan secara ringkas dapat disebut sebagai cara manusia mengutak-atik alam sekitarnya dan relasinya dengan sesama. Kebudayaan tidak turun dari langit. Kebudayaan merupakan hasil dari pergulatan manusia dengan alam. Relasi antara keduanya karena itu adalah bahwa evangelisasi harus memahami kebudayaan yang ada. Tanpa pemahaman demikian, evangelisasi hanya akan menindas. Artinya, jati diri individu-individu dapat semakin dijauhkan dari ikatan-ikatan spiritual dan kultural. Masyarakat dewasa ini cenderung rentan terhadap kekosongan spiritual dan moral. Desakan kebutuhan akan identitas diri dan kelompok inilah yang melahirkan berbagai bentuk primordialisme, identitas etnik, kemurnian kultural, pengelompokan religius, maupun politik identitas. Intinya, terjadi krisis kemanusiaan di zaman post-modern.
Alur pembahasan di sini tidak hendak memberikan pemecahan teologis, tapi hendak memahami apa yang sesungguhnya terjadi dalam evangelisasi pada masyarakat dengan aneka kebudayaan yang dihayatinya.

Agama yang Membudaya
Agama Pada Umumnya
Hakikat pengalaman religius adalah kepekaan terhadap yang kudus dan muncul dalam pergaulan manusia dengan dunia atau alam semesta. Maka, pengalaman religius itu harus dikatakan bukan hanya natural, melainkan juga kultural. Dengan kata lain, pengalaman religius itu merupakan persoalan alam dan sekaligus perkara budaya. Mengapa agama dan budaya sulit dipisahkan? Sebab agama tidak akan dianut oleh umatnya tanpa budaya. Wahyu Allah yang diturunkan hanya akan dapat disampaikan karena adanya bahasa, sikap perbuatan manusia, simbol-simbol tertentu, dan sebagainya. Beberapa ahli memang membedakan adanya agama wahyu dan agama budaya. Agama wahyu adalah agama yang berasal dari wahyu Allah sedangkan agama budaya adalah agama yang tidak bersumber dari wahyu Allah melainkan muncul dari alam pikiran manusia sendiri

Dalam perkembangan selanjutnya sistem keagamaan pun terbentuk dalam masyarakat. Sistem ini tidak statis, melainkan dinamis. Dinamika sistem dapat dilihat dari perubahan-perubahan yang terjadi karena kebutuhan. Dinamika demikian tidak memaksudkan perubahan inti keyakinan itu sendiri. Malahan sebaliknya, yakni bagaimana inti keyakinan itu tetap bertahan dan mampu masuk dalam situasi konkret manusia. Dalam Gereja Katolik, kita mengenai istilah inkulturasi, yakni penghayatan Injili yang sedapat mungkin disesuaikan dengan cara manusia setempat menghayati lingkungannya. Berlawanan terhadap hal ini, kita juga mengenal gerakan keagamaan yang bersifat fundamentalis, yakni mereka yang mau mempertahankan ajaran agama semurni mungkin tanpa menghiraukan situasi konkret manusia. Itulah mengapa dalam banyak hal kemudian muncul pertanyaan, jika agama kerap digunakan sebagai pembenaran kekerasan atau konflik, apakah agama mesti dikendalikan oleh negara?

Agama Katolik secara khusus
Ketika masuk dalam suatu kebudayaan, agama tidak dapat melepaskan diri dari pola dan cara hidup masyarakatnya. Dalam perkembangan Islam di Jawa, kita mungkin sudah mengetahui bahwa Sunan Kali Jaga terkenal karena perpaduan yang dilakukannya antara Islam dan kebudayaan Jawa baik dalam kesenian maupun dalam bentuk bangunan peribadatan. Dalam Gereja Katolik sendiri, perpaduan ini masih terus dilakukan. Iman bukanlah benda mati. Iman adalah penghayatan kepada Allah yang dijalankan setiap hari. Iman justru menemukan bentuknya dalam hidup manusia konkret. Perjumpaan iman dengan realitas hidup manusia merupakan suatu peristiwa nyata. Hal ini tidak boleh dilupakan. Sebagai sebuah peristiwa, penghayatan iman demikian menjadi tampak, setidaknya dapat ditangkap oleh pengertian manusia.

Pada poin inilah, agama dapat dikatakan membudaya, mengakar. Memang iman mengatasi apa yang dapat dimengerti tapi iman tetap membutuhkan pengertian supaya apa yang diwartakan dapat dipahami dan lantas dihayati oleh masyarakat yang bersangkutan. Contoh dari Kitab Suci yang dapat dikatakan di sini adalah ketika Paulus berada di Yunani. ‘Kegagalan’-nya mewartakan Kristus yang bangkit terbentur pada pengertian orang-orang Yunani waktu itu mengenai kebangkitan badan. Pada perkembangan selanjutnya, kita melihat bagaimana para pewarta iman berusaha memadukan iman Kristiani dengan tradisi Helenis-Romawi agar iman itu sendiri dapat dipahami dengan lebih baik dan salah satu tokoh yang dikatakan mampu memadukan kedua hal ini adalah St. Agustinus.
Di pihak lain, agama Kristiani tampaknya menjadi budaya tersendiri. Usaha pewartaan Kristus ke benua dan dataran baru diidentikkan dengan penyebaran kebudayaan Kristiani itu sendiri. Masyarakat dan kebudayaan baru yang ditemukan sebisa mungkin diubah ke dalam cara berpikir yang lebih unggul, yakni Kristianitas. Tapi, semenjak Konsili Vatikan II, pandangan Gereja Katolik berubah. Ini tampak dalam Towards A Pastoral Approach To Culture, di mana dikatakan ‘Bagi Gereja, masa ini adalah masa kegembiraan baru, masa yang matang bagi evangelisasi baru, di mana sifat-sifat kebudayaan baru dilihat sebagai kesempatan dan tantangan dari usaha pendekatan pastoral pada kebudayaan.  Sayangnya, sifat atau ciri kebudayaan yang baru itu tetap harus diseleksi sejauh tidak sesuai dengan keyakinan iman Katolik. Inilah apa yang kerap disebut sebagai dominasi dan dengan kata lain hendak menegaskan bahwa kebenaran itu hanya ada satu. Secara ontologis, karakter Ada ini mengandung kekerasan sebab Ia memaksakan semua yang ada dibawahnya hidup dan bertindak menurut apa yang seharusnya. Akibatnya, dalam kebudayaan manusia tidak hanya bertanya bagaimana sifat-sifat sesuatu, melainkan pula bagaimana sesuatu seharusnya bersifat.

Pemahaman dan Konteks
1. Tantangan
Salah satu kritik paling tajam yang kerap dilontarkan para pemikir post-modernisme terhadap keyakinan agama adalah bahwa kebenaran itu tidak tunggal atau absolut dan dimiliki oleh sekelompok orang atau organisasi atau agama tertentu. Kebenaran dapat dipahami sejauh manusia dapat mengerti hidupnya, situasi konkretnya, masalah dan kebutuhan-kebutuhannya. Titik pendasaran kebenaran sekarang lantas diletakkan pada nilai martabat manusia. Paus Yohanes Paulus II menyadari hal ini.

Dalam Ensikliknya berjudul Fides et Ratio, ia berkata, “Faith and reason are like two wings on which the human spirit rises to the contemplation of truth; and God has placed in the human heart a desire to know the truth—in a word, to know himself—so that, by knowing and loving God, men and women may also come to the fullness of truth about themselves (cf. Ex 33:18; Ps 27:8-9; 63:2-3; Jn 14:8; 1 Jn 3:2)”. (Iman dan akal budi seperti dua sayap dari jiwa manusia yang mengkontemplasikan kebenaran; dan Allah meletakkan dalam hati manusia suatu kerinduan untuk mengenal kebenaran – yakni, mengenai dirinya sendiri – sehingga, dengan mengenal dan mencintai Allah, tiap orang baik laki-laki maupun perempuan dapat sampai pada pencapaian kebenaran tentang diri mereka sendiri).Lebih lanjut, Paus berkata bahwa dalam tiap kebudayaan selalu muncul pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti siapakah saya, darimana asalku dan kemana tujuanku, dan sebagainya. Semua ini jelas membutuhkan jawaban.

Paus sesungguhnya hendak menekankan bahwa pengertian manusia selalu menerima segala kemungkinan solusi yang ditawarkan kepadanya. Dan apa yang diterima adalah apa yang sesuai dengan keadaan konkret hidup manusia itu sendiri. Dalam lingkup kebudayaan, ini disebut sebagai keyakinan dan nilai yang termasuk dalam salah satu unsur besar kebudayaan, yakni gagasan atau ide.Apakah nilai dan keyakinan itu merujuk kepada kekuatan supranatural (Allah) atau sesuatu yang lainnya? John K Galbraith berkata, “For a vested interest in understanding is more preciously guarded than any other treasure.”Pendapat tokoh ini memperlihatkan suatu kebutuhan manusia untuk selalu terus memperluas visi dan pengertian manusia sendiri. Dilihat dari paradigma yang lebih luas, hal ini tampaknya berkaitan dengan masalah-masalah arti dan tujuan dalam kehidupan sosial, dasar-dasar etika, moral dan sebagainya. Hidup manusia, dan kebudayaan itu sendiri, selalu berada dalam ketegangan imanensi dan transendensi.
Arti penting agama dalam hal ini dapat diamati sebagai usaha mengumpulkan keyakinan atau nilai yang berhubungan dengan arti manusia dan pentingnya manusia dalam sejarah dunia ini. Atau apakah agama harus ditafsirkan dalam arti yang sangat luas untuk dihubungkan dengan seluruh keyakinan dasar yang berkaitan dengan masalah-masalah eksistensi sosialmanusia di mana agama dilihat sebagai ciri antropologis yang bersifat tetap dan sentral.

Gereja Katolik memahami tantangan ini. Gereja sadar bahwa pelaku atau subjek kebudayaan manusia itu sendiri. Identitas dan martabat social manusia tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan yang diciptakan dan dihayatinya. Dan bahkan lebih dari pada itu pula, Gereja Katolik sadar bahwa agama Katolik bukanlah satu-satunya agama yang ada di dunia ini. Agama-agama lain pun memberi sumbangan perspektif atas munculnya aneka situasi kebudayaan. Dengan kata lain, agama tradisional seolah menjadi ‘halangan’ bagi usaha evangelisasi. Inilah yang dirasakan Gereja ketika berhadapan dengan realitas Asia. Kristianitas masih dirasakan sebagai agama luar yang datang ke dalam kebudayaan Asia. Jika demikian, apa yang bisa ditawarkan Gereja sebagai usaha Evangelisasi?

Kesempatan
Agama pada dasarnya merupakan usaha pencarian manusia akan Allah (Realitas Tertinggi, dll). Dimensi spiritual karena itu menjadi pusat hidup bagi sebuah kebudayaan. Pemahaman Gereja mengenai dimensi kebudayaan ini membuka kesempatan bagi usaha Evangelisasi. Usaha ini memang tampak dalam sumbangan Gereja atas lahirnya suatu kebudayaan solidaritas sebagai usaha tandingan munculnya budaya kematian yang mengakibatkan kemiskinan, ketidakadilan sosial dan perbudakan manusia. Dengan kata lain, Gereja sangat menyadari pusat manusia dalam kebudayaan beserta dimensi-dimensinya dan dari situ bermaksud menciptakan sebuah kebudayaan yang seharusnya menghargai dan menghormati nilai dan martabat manusia itu sendiri. Pada tataran inilah, Gereja berupaya memasukkan nilai-nilainya.  penebusan, harapan, kehidupan seutuhnya, pembebasan, pemajuan manusia, hidup yang integral (materiil dan spiritual) dan pembebasan Injili yang semuanya mempunyai satu pusat, yakni Kristus.

Usaha Gereja memang menghadirkan atau menyumbang hadirnya kebudayaan baru, yakni kebudayaan solidaritas dalam masyarakat multikultur seperti di Asia. Namun, sebagaimana dibahas di atas, usaha Evangelisasi (menurut pengertian Gereja sendiri) tampaknya sulit untuk diwujudkan. Kesempatan memang ada tapi berwujud dalam nilai-nilai yang diterima secara universal seperti keadilan, kesejahteraan masyarakat seutuhnya dan penghargaan terhadap manusia seutuhnya. Aspek-aspek ini sudah terkandung dalam nilai-nilai luhur kebudayaan. Lantas, apakah konsep pengertian Evangelisasi sebagai pemberitaan Kabar Gembira Kristus perlu diubah ataukah terdapat metode dan cara lain dalam proses Evangelisasi ini? Pendirian Gereja dalam dunia modern sebagai Suara Moral tampaknya mengindikasikan hal ini. bukan inti evangelisasi yang diubah melainkan bagaimana pesan Kristus itu sendiri dapat diwujudkan dalam dunia ini. Barangkali Gereja meyakini bahwa terwujudnya pesan Kristus sama dengan kehadiran Kristus itu sendiri dalam dunia ini.

Suara Moral
Surutnya ideologi-ideologi sekularistik besar pada akhir abad dua puluhan mengakibatkan agama-agama berhadapan dengan tantangan historis: Apakah mereka akan membuka diri dan menjadi pendukung utama nilai-nilai kemanusiaan universal, ataukah mereka menutup diri dan menjadi sumber konflik-konflik primordial. Di masa sekarang dan masa depan, agama menghadapai tantangan dan tuntutan peran yang makin besar. Agama dituntut memberikan kerangka pengertian hidup, terutama dalam menyumbangkan dimensi kualitas hidup, yakni dalam kesiapsediaannya untuk melayani umat manusia dalam ketentuan-ketentuan dasarnya. Pada era global di mana masyarakat dunia hidup berdampingan dalam suasana keberagaman sehingga membentuk suatu masyarakat multikultural, agama dituntut untuk meninggalkan peran eksklusifnya. Praksis hidup beragama di tengah masyarakat multikultural perlu makin inklusif, bahkan harus pluralistis, jika agama masih ingin memainkan perannya dalam tatanan etis masyarakat dunia.

Agama Kristiani menyadari panggilan ini. Dalam konteks evangelisasi, agama Kristiani sendiri tidak hendak memaksakan keyakinannya. Apa yang hendak diperjuangkan adalah masuknya dasar-dasar moral-etis bagi keberlangsungan nilai-nilai kemanusiaan. Mengapa hal ini dipejuangkan? Karena Gereja meyakini bahwa dalam situasi apa pun benih-benih ilahi sudah ada dalam tiap kebudayaan sebagaimana yang pernah dinyatakan oleh St. Yustinus Martir dengan Logos Spermaticos. Pendasaran ini tidak dapat dilepaskan dari pemahaman siapa manusia dan cara bagaimana ia bertindak dalam dunia ini. Dengan kata lain, pendasaran etis-moral harus diletakkan pada pengakuan manusia seutuhnya, pada martabat pribadi manusia yang membuat manusia hidup secara manusiawi.
Ketika Gereja bertindak demikian, maka Gereja dapat berada sebagai pondasi toleransi dan keadilan dalam masyarakat multikultur. Dan sekaligus di situ Gereja dapat memperoleh identitasnya setidaknya sebagai sebuah pranata sosial yang mengedepankan dasar-dasar hidup bersama (kesejahteraan umum, keadilan, pembelaan hak-hak asasi manusia). Seruan moral Gereja dapat terwujud jika iman Gereja dapat memasuki konteks kehidupan konkret masyarakat dan kebudayaan.

Penghayatan Iman Membutuhkan Konteks
Penerimaan iman tidaklah membatasi ekspresi kebudayaan setempat, justru penerimaan iman mengandaikan cara berpikir (mengerti) dan pengungkapannya dari orang-orang kebudayaan tersebut. Dengan kata lain, iman membutuhkan konteks. Iman pada dasarnya sekaligus berkarakter universal dan partikular. Dikatakan universal karena iman melampaui batas-batas budaya, etnis, bahasa. Dan dikatakan partikular karena iman ini membutuhkan konteks dalam penghayatannya. Tapi, harus diakui bahwa beberapa elemen substansial memang tidak dapat diganti.

Konteks memungkinkan pemahaman. Dan dari pemahaman lahirlah kemudian segala bentuk ungkapan baik yang terwujud dalam bentuk kesenian, objek materi (patung  dan gambar) serta kesalehan rakyat (devosi). Tapi, pemahaman demikian tidak berarti bahwa iman Kristiani tidak hanya milik umat Kristiani saja. Dalam Deus Caritas Est art.9, Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa Allah yang diyakini tersebut tidak diklaim sebagai satu-satunya Allah milik umat kristiani. Semua umat beragama, bahkan mereka yang tidak bergabung dalam komunitas agama mana pun, bebas menerima Allah yang satu itu sebagai Allah mereka. Paus mengajak umat beriman untuk membuka diri terhadap Allah Sang Pencipta yang diimani oleh penganut agama lain.
Tiap konteks kebudayaan memang menampilkan jati diri, identitas, dan keyakinan yang dianggap benar. Masyarakat dewasa ini (masyarakat post-modern) seolah hidup tanpa agama. Artinya, jika agama mempunyai nilai, nilai itu mesti ditemukan dalam hidup komunal, dalam komunitas. Hal ini tidak menyangkal martabat pribadi manusia. Justru, pribadi manusia sudah termuat dalam relasi satu sama lain dalam suatu komunitas, kebudayaan, dan bangsa. Inilah kebudayaan solidaritas yang disumbangkan Gereja dalam masyarakat multikultur dan Gereja berdiri di dalamnya sebagai suara moral.

Pelaku Evangelisasi
Gereja diciptakan untuk menyebarluaskan Kerajaan Kristus di mana-mana demi kemuliaan Allah Bapa dan dengan demikian mengikutsertakan semua orang dalam penebusan yang membawa keselamatan. Dan semua kegiatan Tubuh Mistik, yang mengarah pada Kristus, disebut kerasulan. Kerasulan itu dilaksanakan oleh Gereja melalui semua anggotanya dengan pelbagai cara Teks ini sesungguhnya melihat peran awam dalam peran kerasulan (Evangelisasi) dalam dunia modern. Tapi, pengertian awam itu sendiri luas. Lantas, mana saja status awam yang memegang peran khusus dalam envangelisasi di dunia modern ini?

Dalam pidatonya di hadapan para pendidik Universitas Katolik Amerika, Washington, Paus Benediktus XVI berkata bahwa pendidikan merupakan bagian integral dari misi Gereja untuk mewartakan Kabar Gembira. Bagi Paus, pendidikan demikian bukan hanya untuk menghasilkan umat Katolik yang baik, tapi juga menampilkan identitas Katolik ke luar (ke masyarakat). Namun, persoalan yang muncul kemudian adalah apakah iman Katolik ini harus diajarkan secara eksplisit? Sebagaimana yang dikatakan Tim Lacy, usaha Bapa Suci tampaknya menjadi kesulitan tersendiri. Bukan semata karena dewasa ini sudah banyak pakar di bidang psikologi, sejarah, filsafat dan lain-lain, melainkan juga bagaimana iman itu dijelaskan dalam kaitan dengan tugas atau profesi seseorang yang ahli di bidang masing-masing dan yang akhirnya berakibat pada persoalan kebebasan akademis.

Sejauh misi Gereja ini melibatkan Gereja itu sendiri dalam perjuangan manusia mencapai kebenaran, maka masih ada jalan yang masih bisa dilaksanakan, yakni akal budi manusia. Iman dan akal budi tidaklah bertentangan. Karena itu, perjuangan Gereja dalam bidang kemanusiaan ini sejalan dengan harapan masyarakat multikultural untuk mengembangkan suatu masyarakat yang betul-betul menghargai dan menghormati martabat manusia. Memang iman tetap menjadi poros hidup kaum beriman dalam pewartaan Kristus. Namun, kesaksian hidup lebih berpengaruh atas cara hidup dalam keluarga secara khusus dan dalam masyarakat multikultur secara umum.
Mengingat hal di atas yang sekaligus juga merupakan tugas kemanusiaan asasi dalam mewujudkan kesejahteraan umum dalam masyarakat multikultur, maka agama tetap diperlukan suara moral-etis-profetisnya agar tuntutan keadilan menjadi makin mudah dipahami dan diwujudkan. Dalam masyarakat multikultur, tugas tersebut dapat diwujudkan dalam Komunitas Basis Gerejani. Inti dari komunitas ini pada dasarnya adalah bukan tentang ajaran-ajaran Gereja ataupun soal-soal mengenai Allah tetapi pribadi-pribadi manusia yang konkret, yang hidup dalam sejarah dunia ini. Inilah yang mesti terus-menerus digarap oleh Gereja Katolik di tengah masyarakat multikultur berdasarkan terang iman akan Yesus Kristus.

Penutup
Fenomena religius yang terjadi akhir-akhir ini mencerminkan suatu kehausan akan Allah yang hanya dapat dikenal oleh orang merindukannya. Orang harus peka akan kesalehan yang merakyat dalam suatu kebudayaan, mengetahui bagaimana menyelami dimensi-dimensinya yang terdalam serta nilai-nilainya, membantunya mengatasi bahaya penyelewengan. Dengan demikian tiap kebudayaan justru dapat menjadi suatu pertemuan sejati dengan Allah dalam Yesus Kristus (dalam perspektif Kristiani).
Gereja memang menyadari bahwa tatanan kemasyarakatan dan kenegaraan yang adil merupakan tugas sentral politik sehingga menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun ditegaskan bahwa keadilan menyangkut juga akal budi praktis yang perlu terus-menerus dimurnikan agar dapat berfungsi dengan baik. (bdk. Deus Caritas Est art. 29). Berhadapan dengan pengaruh kepentingan dan kekuasaan yang seringkali membutakan akal budi dan menumpulkan nilai-nilai etis, maka peran agama dituntut untuk memberi kontribusi dalam memurnikan akal budi dan menyumbangkan dasar-dasar moral-etis yang dapat dijadikan landasan etis bagi keadilan dan penghormatan kepada manusia.

Daftar Pustaka
Button Prichard, Rebecca. Confict, Suspicion, And Accommodation (Ricoeur and Calvin on Biblical Interpretation) dalam http://www.iep.edu/553RPRICHARD.PDF diakses tanggal 26 Januari 2009.
Lacy, Tim. Pope Benedict XVI’s CUA Address: Reflections And Extensions For History Educators. dalam http://history-and-education.blogspot.com/2008/04/pope-benedict-xvis-cua-address.html diakses tanggal 5 Mei 2009.
Magnis-Suseno, Franz. Filsafat Kebudayaan Politik: Butir-butir Pemikiran Kritis. Jakarta: Gramedia, 1995.
Makalah Kuliah Culture and Society.
Paus Benediktus XVI. Deus Caritas Est (Ensiklik), dipromulgasikan pada 25 Desember 2005.
Paus Paulus VI. Evangelii Nuntiandi (Exhortatio), dipromulgasikan pada 8 Desember 1975.
Paus Yohanes Paulus II. Fides et Ratio (Ensiklik), dipromulgasikan pada 14 September 1998.
Pontifical Council For Culture. Towards A Pastoral Approach To Culture dalam http://www.vatican.va/roman_curia/pontifical_councils/cultr/documents/rc_pc_pc_cultr_doc_03061999_pastoral_en.html diakses tanggal 5 Mei 2009.
Peursen, Van. Strategi Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius, 1988.
Sumartana, Th. Kebangkitan Agama dalam Era Globalisasi  dalam  Reformasi Politik, Kebangkitan Agama, dan Konsumerisme. Yogyakarta: Dian/Interfidei, 2000.
Vatikan, Konsili II. Apostolicam Actuositatem (diterjemahkan oleh Departemen  Dokumentasi dan Penerangan KWI). Jakarta, 1991.

Tulisan ini dipublikasikan di Serius Dikit... dan tag , , , , . Tandai permalink.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of