‘hoyen’, Survive atau Mati Konyol

 

Kurang lebih jam 12 malam tiba-tiba perutku berbunyi. Aku tidak tahu bunyi ini mau menandakan apa. Lapar juga tidak. Atau malah mau bilang supaya cepat tidur. Hmm, bagi aku dan beberapa teman lainnya, jam segitu malah dibilang masih sore. Tahu kan apa yang biasa dilakukan orang-orang di sore hari pada umumnya. Nah, begitu jugalah yang dilakukan beberapa temanku yang unik ini. Tak heran jika kemudian warga kampung pada dongkol apalagi yang tinggal dekat rumah singgah ini.
On the way, eh, by the way, bukan itu yang mau saya share-kan. Memang harus diakui kisah sedih yang happy ending agak sulit tercipta waktu itu. Pasti dan pasti ada kejadian meresahkan. Ya, itulah cerita kehidupan. Sambil menunggu bunyi perut ini berhenti, tiba-tiba ada beberapa anak mengajak saya untuk cari makanan. Tumben!! Teriakku dalam hati. Cari uang saja kesulitan bahkan sampai harus dikejar-kejar Pamong Praja segala masih sempat mau traktir makan tengah malam gini. Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan ajakan mereka. Malam-malam gini siapa tahu ada makanan enak, yang tidak diperoleh di siang hari.

Baru beberapa meter berderap semangat dengan anak-anak ini tiba-tiba ada kawan lama bertanya padaku. “Mau ke mana Mas Bro..?”, katanya. Aku bilang mau cari makanan. Aneh, bukannya senang (karena biasanya nitip makanan), dia malah tersenyum kecut. Ah, biarlah pikirku. Mungkin kesadarannya agak terganggu akibat beberapa botol Vodka, Paloma atau cukrík yang baru saja dia minum bersama beberapa anak kampung di situ.
Dengan langkah tegap penuh semangat seperti tentara berbaris menuju medan perang, saya dan beberapa anak terus berjalan ke tempat yang dimaksud. Mungkin tidak sampai 1 KM, anak-anak yang mengajak saya itu bilang, “Mas, kita dah nyampe”. Bingung dech. Lha, waktu dibilang dah sampai, otomotis mata ini menyapu setiap penjuru mata angin. Kok gak ada warung atau pun kedai makanan. Saya heran dan bertanya dalam hati apa ada warung tersembunyi di sekitar sini. Belum sempat menjawab pertanyaan ini, tiba-tiba terdengar suara keras dan menyeramkan untuk orang-orang yang suka begadang malam hari. “Mas, sini, bantuin kita”, teriak beberapa anak yang tampak tidak kuat (kelihatan dari urat lehernya yang menonjol keluar).

Ya ampun, ternyata mereka sedang mengangkat tutup kotak sampah di samping Pizza Hut. “Cepat Mas.. “, teriak mereka lagi. Setelah tutup sampahnya berhasil di-‘aman’-kan, beberapa anak langsung menyerbu ke dalam kotak ajaib itu. “Ooiiii, jangan sampe terinjak” kata salah seorang. Yang lain malah bilang, “Sikilmu kotor, wis gak usah mlebu. Ntar makanannya rémék”. Tambah penasaran dengan apa yang mereka lakukan, saya hanya melihat aja. Ngapain juga sampah diobrak-abrik kayak gini. Ternyata, setelah melalui pencarian yang detail dan penuh kehati-hatian, apa yang dicari akhirnya ketemu. Bundaran Pizza yang belum diberi bumbu-bumbu di atasnya ditemukan dalam keadaan utuh bahkan banyak. “Hore, makan kenyang nie” seru beberapa anak.

Akhirnya, saya paham inilah makanan yang mereka maksudkan. Perasaan jijik tentu mulai menyelimuti saya. Apalagi ketika ada potongan Pizza dengan adonan sosis, keju di atasnya dimakan oleh anak-anak ini. Mungkin mereka lupa karena senang sehingga saat potongan Pizza itu hanya menyisakan rêmuk’an (akibat diremas sama tangan-tangan mereka), mereka lantas memberikan ke saya sisa itu. Sambil mengumpulkan keberanian dan menguatkan perut yang bergejolak hebat (mungkin karena tahu makanan apa yang akan masuk), saya pun menerima dan memakannya. Tidak lupa juga saya berdoa semoga ini terakhir kalinya saya ke sini dan makan seperti ini. Enak… Begitulah kesannya walaupun bentuknya dah gak karuan.

Saya tidak tahu roh apa yang merasuki saya kemudian. Setelah mendapatkan 1 kardus Pizza yang masih bundar, saya malah semangat mengajak anak-anak itu untuk kembali ke tempat itu. Memang seringkali pula dimarahi ama satpam di situ. Saya sendiri baru tahu mengapa dimarahi. Rupanya, satpam dan pegawai di dalamnya kongkalikong menyelundupkan Saos buat Pizza di dalam tempat sampah. Makanya, tidak pernah ketahuan oleh si Bos, lha wong dikira sampah.

Itulah Hoyen. Istilah anak-anak jalanan yang saya dampingi untuk menyebut makanan bekas (sisa) yang kiranya bagi mereka masih layak dimakan. Eh, bukan bekas makanan. Tapi, makanan bekas yang dibuang karena tidak dipakai.
Terima kasih semuanya….

Use Your Imagination and Reason

Tulisan ini dipublikasikan di Cerita Kehidupan dan tag , . Tandai permalink.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of