Ketika Filsafat Pencerahan (Kembali) Menjadi Mitos (Hegel dan Teori Kritis)

Tulisan ini pertama-tama adalah sebuah refleksi filosofis atas bangkitnya perlawanan terhadap era Pencerahan. Perlawanan atau reaksi terhadap tujuan yang diemban oleh masa Pencerahan sangatlah bervariasi dan bahkan luas. Karena itu, tulisan ini hanya akan memberi perhatian pada salah satu aspek dari Teori Kritis dalam menyikapi kegagalan Pencerahan, yakni aplikasi pemikiran Freud atas tujuan Pencerahan[1].

Pencerahan – sebenarnya agak aneh juga menyebutnya – pada dasarnya merupakan sistem filsafat yang bertumpu pada kemampuan Rasio. Dikatakan Pencerahan karena Rasio atau Akal Budi dianggap mampu menerangi setiap jalan kehidupan manusia untuk hidup bersama dengan baik dalam masyarakat dan Negara. Karena itu, semakin Akal Budi ini tercerahkan, maka semakin baik pula kehidupan manusia. Immanuel Kant-lah yang pertama mencetuskan pendirian demikian. Selanjutnya diikuti oleh Schelling, Fichte dan berpuncak pada sistem besar filsafat Hegel. Umumnya, keempat tokoh filsuf ini dikelompokkan ke dalam Idealisme Jerman.

Lahirnya Idealisme (di) Jerman[2]

Pemikiran para filsuf Idealis (Idealisme Jerman) tidaklah muncul begitu saja. Pemikiran mereka – selanjutnya disebut Idealisme Jerman saja – merupakan tanggapan terhadap Revolusi Perancis. Revolusi Perancis bukanlah semata gambaran tentang pemberontakan kaum ini atau pun kaum itu (seperti belajar sejarah di sekolah dulu). Revolusi Perancis menandaskan dua hal penting:

  1. Putusnya relasi Agama dengan politik.
  2. Kehancuran tata hidup bersama yang ditandai oleh runtuhnya dasar Agama (sekaligus dasar hidup) dalam masyarakat.

Lantaran dua dasar inilah, para filsuf idealisme kemudian berusaha mencari dan menetapkan dasar RASIONAL bagi tata hidup umat manusia. Harapan utamanya adalah jaminan kebebasan individu dan tata hidup bersama yang baik sehingga perdamaian[3] tercipta. Karena itu, masing-masing filsuf tersebut lantas menetapkan sebuah sistem filsafat yang – menurut mereka pastinya – mampu memberi dasar rasional ini.

Batu pijakan bagi pemikiran mereka adalah pemahaman tentang Subjektivitas (Self, Ich, Ego, Rasio). Mengapa subjektivitas? Karena bagi para filsuf Idealisme, subjek manusia memiliki potensi untuk menata dan mengatur kehidupan dan alam untuk kesejahteraan bersama. Sebagaimana yang dikatakan Hegel, “Tidak pernah, semenjak matahari menjadi pusat dan planet-planet mengitarinya, eksistensi manusia diletakkan di pikirannya[4]. Subjek manusia mampu meletakkan seluruh realitas dalam bingkai rasio-nya. Bahkan katanya lagi, “He (subjek manusia, penulis) is thus not at the mercy of the facts that surround him[5]. Subjek manusia tidak boleh lagi tunduk pada otoritas di luar dirinya. Inilah peralihan yang dilihat oleh Idealisme Jerman dari ketidakdewasaan (immaturity) ke dewasa (maturity)[6].

Akan tetapi, sebagaimana dipahami oleh Herbert Marcuse (dan juga Adorno serta Horkheimer), filsafat Hegel rupanya menciptakan kontradiksi bagi dirinya sendiri ketika berhadapan dengan realitas sosial yang ada. Lho, bukannya dalam filsafat Hegel, seluruh realitas ini justru bersifat Rasional? Benar. Bagi Hegel, Rasio tidak akan pernah bisa menata dan membangun realitas yang lebih baik jika realitas itu sendiri belum rasional.

Nah, rasionalitas itu hanya bisa terjadi ketika Subjek masuk ke dalam realitas itu sendiri. Bingung gak? Sebenarnya tidak juga jika mengetahui bahwa pemahaman yang satu ini diadopsi Hegel dari pemikiran Spinoza mengenai Substansi. Ringkasnya, realitas objektif pada dasarnya adalah pengejawantahan Subjek sendiri. Hegel mengungkapkan pemahamannya ini dengan kalimat terkenal, bahwa “Rasio adalah Subjek dalam substansinya”. Gagasan ini – mengikuti pendirian Spinoza – berarti memahami realitas sebagai proses penyatuan dari segala apa yang ada. Karena itu, segala sesuatu yang ada itu adalah nyata (riil, red) sejauh masuk dalam proses dialektika Rasio[7]. Geliat Rasio ini hanya mungkin dalam kebebasan. Kebebasan dan Rasio bukanah 2 hal yang bertentangan, melainkan saling membutuhkan dan mempengaruhi (ingat inti filsafat Hegel adalah struktur Rasio itu sendiri)[8]. Nah, medium bagi realitas supaya menjadi rasional ini adalah alam (nature). Mengapa? Karena Subjektivitas itu pada dasarnya merupakan realisasi atau perwujudan Rasio melalui dan dalam alam.

Implikasi pemikiran Hegel ini begitu luar biasa dan dapat dikatakan pula Hegel adalah filsuf terakhir yang menafsirkan dan melihat dunia ini sebagai Rasio dengan menempatkan sejarah dan alam di bawah Pikiran/Rasio dan Kebebasan.

Filsafat Hegel dan Teori Sosial[9]

Setelah Hegel meninggal tahun 1831, para Hegelian (pengikut Hegel) terpecah menjadi dua, yakni Hegelianisme Kiri dan Hegelianisme Kanan. Pada pertengahan abad ke-19, rivalitas ini membuat pengaruh Hegel mulai memudar. Beruntung idealisme Hegel dihidupkan kembali di dataran Inggris oleh T.H.Green (1836-1882), F.H. Bradley (1846-1924), and Bernard Bosanquet (1848-1923). Berkaitan dengan isi filsafat Hegel itu sendiri, tampak hanya Marx yang mewarisi sekaligus mengambilalih daya kritis atau pendirian kritis Hegel. Di lain pihak, sistem filsafat Hegel justru secara intrinsik menyiratkan sebuah transisi dari filsafat ke ilmu sosial. Atau dengan kata lain, filsafat Hegel menghubungkan teori-teori sosial baik sebelum dan sesudahnya. Ini menjadi pintu masuk untuk memahami gagasan Teori Kritis. Kok bisa?

Pertama-tama, filsafat Hegel termasuk dalam tradisi filsafat Barat. Semenjak Renaisans bergulir – yang kemudian ditandai mulai pudarnya dasar dogma Agama – filsafat lantas mengambil pijakan berpikirnya pada golongan/kelas menengah. Slogan kritis kelas menengah kala itu berpusat pada rasionalitas. Tema inilah yang kemudian dieksplorasi secara hebat oleh para pemikir renaisans dan sesudahnya semisal Descartes, Hobbes, Spinoza, Leibniz.. Slogan ini merupakan cetusan reaksi terhadap perdebatan kebasahan pengetahuan, perlawanan terhadap dogmatisme Gereja dan kekuasaan mutlak Raja.

Gagasan Rasionalitas ini pada mulanya tidaklah bermaksud anti-agama. Gagasan ini tetap menerima bahwa seluruh ciptaan berasal dari Allah. Poinnya, pemikiran tentang Allah masih diterima dalam slogan RASIO demikian. Yang tidak diterima adalah bahwa adanya pemberangusan terhadap hak-hak manusia untuk menentukan dirinya sendiri sesuai dengan kebutuhan dan pengetahuannya. Patut disayangkan bahwa dalam perkembangan kemudian Rasio memisahkan diri dan menentukan dirinya sebagai penjelasan terakhir bagi perjalanan sejarah umat manusia. Peristiwa ini kemudian ditandai oleh pemenggalan kepala Raja Louis XVI beserta istrinya Marie Antoinette di Perancis dengan guillotine tahun 1793[10]. Sejak saat itu – Revolusi Perancis dan kemudian Revolusi Industri – aktivitas RASIO menjadi tolak ukur dan dasar bagi kemajuan umat manusia.

Hegel dan para filsuf Idealisme menerima pemikiran ini. Terutama Hegel, ia bahkan mengembangkan lebih jauh lagi gagasan ini sehingga mencakup Negara. Ok, mungkin sebelumnya perlulah dijelaskan mengapa para filsuf ini dikategorikan filsuf Idealisme. Mengapa disebut Idealisme? Ini terjadi karena perkembangan industri di Jerman kala itu tidak begitu menggeliat dibanding Perancis dan Inggris. Ini belum lagi penyebaran kelas menengah di Jerman saat itu begitu luas dan masih berlakunya sistem feudal menyebabkan sulitnya memikirkan revolusi. Gagasan mengenai revolusi industri karena itu hanya tinggal menjadi teori belaka. Dengan lain kata, ketika Revolusi Perancis menegaskan masuknya kebebasan ke dalam hidup sehari-hari, para filsuf Jerman justru sibuk dengan gagasan kebebasan tersebut. Usaha nyata – kalau dikatakan demikian – untuk menetapkan dasar RASIONAL bagi masyarakat diletakkan pada tataran filosofis yang tampil dalam elaborasi gagasan RASIONALITAS itu sendiri.

Well, dari semua penjelasan di atas, poin yang mau dikatakan adalah – sebagaimana dinyatakan Marx – bahwa sistem filsafat Hegel ini dengan gemilang menyatukan prinsip kelas menengah (kelas bourgeois) dalam gagasan Pikiran atau Realitas – yang nantinya dilihat sebagai SISTEM. Dalam perjalanan selanjutnya, Karl Marx akan mengadopsi pemikiran ini dan menciptakan dialektika-nya sendiri.[11] Selain oleh Marx, gagasan Hegel rupanya akan dimodifikasi oleh Fascisme Italia dan Nasional Sosialis Jerman di bawah Hitler.[12]

BERSAMBUNG ke bagian dua (Ketika) Freud (masuk) dalam Tradisi Filsafat Barat


[1] Sumber dari tulisan ini banyak diambil dari Herbert Marcuse. Reason and Revolution (Hegel and The Rise of Social Theory), Second Edition. Routledge & Kegan Paul LTD: London, 1955 dan Yvonne Sherratt. Adorno’s Positive Dialectic. Cambridge University Press: Cambridge, 2002.

[2] Lih. Herbert Marcuse. Idem. Hal 3-29

[3] Perdamaian merupakan tujuan utama Pencerahan.

[4] Herbert Marcuse. Loc Cit.

[5] Pemahaman ini akan sangat penting ketika masuk dalam pembahasan selanjutnya.

[6] Herbert Marcuse menyatakannya sebagai berikut, “Man had passed the long period of IMMATURITY during which he had been victimized by overwhelming natural and social forces, and had become the autonomous subject of his own development. From now on, the struggle with nature and with social organization was to be guided by his own progress in knowledge. The world was to be an order of reason”. Herbert Marcuse. Loc Cit.

[7] Hegel sebenarnya tidak pernah menggunakan terminologi Dialektika untuk menggambarkan penyatuan melalui proses antagonis. Para rival Hegel-lah yang memberi istilah ini.

[8]The core of Hegel’s philosophy is a structure the concepts of which freedom, subject, mind, notion are derived from the idea of reason. Unless we succeed in unfolding the content of these ideas and the intrinsic connection among them, Hegel’s system will seem to be obscure metaphysics, which it in fact never was”. Herbert Marcuse. Loc Cit.

[9] Lih. Herber Marcuse. Op Cit. Hal. 251- 261

[10] Awal gerakan Revolusi Perancis pada dasarnya bermula tahun 1789, yakni penyerbuan Benteng Bassile yang sekaligus penjara bagi tahanan politik dan tahanan lainnya.

[11] Meskipun Marx berhasil menciptakan dialektika materialis-historisnya dan sekaligus mengubah haluan dari sistem Hegel, Marx tetaplah masih mewarisi semangat Pencerahan. Lih. Herbert Marcuse. Op Cit. Hal. 273-320.

[12] Lih. Herbert Marcuse. Idem. Hal. 402-419

Tulisan ini dipublikasikan di Serius Dikit... dan tag , , , , . Tandai permalink.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of