Hak atas Tubuh = Hak Pribadi?

komersialSebelumnya saya sudah pernah menulis artikel mengenai tubuh, lebih tepatnya panorama filsafat tubuh. Tapi, beberapa waktu lalu ketika saya memberi soal untuk mahasiswa yang saya ajar, saya merasa ada beberapa hal yang harus saya tambahkan. Persoalan inilah yang menggelitik saya untuk menuliskannya. Pertanyaan yang saya berikan sederhana saja, yakni apakah manusia memiliki hak atas tubuh sehingga ia pun berhak untuk melakukan apa pun termasuk komersialisasi tubuh. Jawaban yang diberikan sangat beragam. Ada yang setuju dengan penjelasan bahwa hak atas tubuh merupakan hak manusiawi namun menolak komersialisasi tubuh apa pun itu. Ada yang tidak setuju dengan penjelasan yang lebih bernada teologis. Ada yang setuju dengan alasan yang lumayan aneh. Di zaman ini, persoalan Hak bukanlah hal baru, tapi tetap saja persoalan ini menuntut perhatian lebih lantaran konsekuensi yang muncul dari tataran sosial. Misal, saya pernah membaca sebuah artikel di surat kabar mengenai penangkapan beberapa PSK. Yang menarik perhatian saya adalah salah satu komentar yang mereka ungkapkan, yakni “Mau menjual tubuh sendiri aja kok dilarang… ” tattoPernyataan ini bagi saya cukup mengesankan lantaran apakah Tubuh merupakan hak individu atau bagaimana? Jika Tubuh adalah hak Individu seseorang, bukankah ia tidak boleh dilarang? Kalo pun dilarang, atas dasar apa pelarangan ini? Adalah fakta bahwa tubuh memiliki prinsip kefanaan lantaran tubuh merupakan materi. Akan tetapi, tubuh manusiawi bukanlah semata menghadirkan prinsip materia. Tubuh menghadirkan pula keseluruhan kemanusiaan dan bahkan keilahian. Bayangkan saja seandainya tubuh manusia (mayat) diperlakukan sama seperti binatang. Simak pula mengapa dalam setiap ritus atau upacara pemakaman, tubuh manusia diperlakukan secara hormat dan penuh penghargaan. Memang benar bahwa manusia memiliki hak atas tubuhnya. Hak inilah yang menjadikan tubuh itu indah, berkenan, dan pantas dikagumi. Karena hak ini pulalah, manusia mampu merawat, memelihara, dan menjaga tubuhnya. Tubuhnya menjadi kehadiran paling nyata di dunia ini. AKAN TETAPI, saat tubuh berada dalam dunia sosial, tubuh bukan lagi sepenuhnya dimiliki oleh pribadi tertentu. Ia telah menjadi milik societas. Apa maksudnya? Maksudnya adalah tatanan masyarakat mampu mengekang dan membentuk sebuah paradigma tertentu terhadap Tubuh. Apa yang dimaksud dengan paradigma di sini sangat bernilai etis sehingga apa pun bentuk yang dilakukan terhadap Tubuh pada dasarnya tidak pernah terlepas dari kungkungan ‘mata’ masyarakat. nudeDi sinilah letak poin yang cukup telak bagi argumen bahwa Tubuh mengungkapkan nilai (salah satunya) keilahian sehingga komersialisasi tubuh ditentang dari yang sederhana sampai yang ekstrem. Hanya yang menjadi persoalan kemudian adalah pemahaman masyarakat akan nilai keilahian sangat beragam (pun kiranya kerap bertentangan). Kalau mau dicari titik temu pasti sulitnya minta ampun. Pihak yang satu bilang demikian & kalo dilanggar akan ada sanksi tegas (fisik juga). Pihak yang lain bilang biarlah mereka yang menanggung akibatnya karena kita bukan Yang Mahakuasa. Nah, bagaimana sikap Anda sendiri…..

Tulisan ini dipublikasikan di Cerita Kehidupan dan tag , . Tandai permalink.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of