Ketakutan

Saya menuliskan hal ini lantaran ada 1 peristiwa besar yang terjadi beberapa hari lalu dan ternyata terus mengusik pikiran saya, yakni pengusiran warga Syiah di Madura. Sebenarnya berita ini sudah saya baca di koran dan mungkin karena terlalu sering dicekok’i dengan berita seperti ini pikiran kritis saya berlalu begitu saja. Tidak berselang lama, salah satu acara di televisi rupanya mengangkat persoalan ini dan membahas secara panjang lebar dengan judul mentereng, ‘Warga Syiah diusir, Negara ke mana?’.

ImageEntah karena terusik oleh acara tersebut atau karena prihatin dengan keadaan bangsa ini, pikiran saya tertuju pada Thomas Hobbes. Jauh banget sampai ke orang satu ini. Oiya, Thomas Hobbes adalah filsuf asal Inggris yang mencetuskan pemikiran Negara modern. Mengapa disebut Negara modern? Ya, karena pada Hobbes-lah Negara sebagaimana dipahami sekarang ini mendapat dasarnya. Apa dasarnya? Dasarnya adalah pemikiran mengenai Hak-hak dasar Manusia itu sendiri yang melandasi berdirinya sebuah Negara…. By the way, hhhmmm, bukan itu yang ingin saya ungkapkan di sini.

Mengapa pikiran saya tertuju ke filsuf ini? Ada dua alasan yang bisa saya berikan. Pertama, saya merasa bahwa sebenarnya bukan atas dasar Agama seseorang atau sekelompok besar orang bisa melakukan sesuatu yang buruk [pengusiran, red] kepada sesamanya. Okelah, kalau dikatakan sesat atau apa pun namanya saya tidak tahu. Hanya, sesesat-sesatnya kelompok tertentu, apakah ajaran mereka yang dibilang sesat itu berisi delik atau ketentuan yang [juga] mengatur pengusiran kepada sesamanya. MUNGKIN, bagi kita yang mengakui agama kita lurus dan tak bercela, justru perilaku atau tindakan kita yang malah sesat [dengan berbuat buruk kepada sesama]. Saya merasa bahwa sebenarnya dasar tindakan pengusiran itu adalah ketakutan. Ketakutan atas apa? Saya sendiri tidak tahu jawabannya.

Alasan kedua, Hobbes pernah mengatakan bahwa ketakutan akan kematian merupakan dasar utama bagi terciptanya perdamaian yang terwujud dalam bentuk Negara. Dengan kata lain, adanya Negara sebenarnya hanya menjaga dan mempertahankan hak setiap orang untuk hidup dengan cara menekan hasrat paling dasar dari manusia yakni kepentingan diri melalui seperangkat aturan dan hadirnya seorang penguasa yang disebut Leviathan. Tiap orang pasti takut akan kematian dan karena hal inilah Negara bukanlah berupaya mencapai Summum Bonum melainkan menghindarkan anggota-anggotanya dari Summum Malum. Hobbes sendiri malah pernah membuat lelucon tentang ketakutan ini, yakni ketakutan dan dirinya lahir bersamaan ke dalam dunia ini. Hobbes memang lahir prematur lantaran ibunya mendengar kabar bahwa armada Spanyol akan menyerang Inggris.

Syiah diusirBarangkali apa yang saya uraikan di atas dapat juga menjawab pertanyaan acara TV yang berjudul, ‘Warga Syiah diusir, Negara ke mana?’. Bagi saya, Negara tidak kemana-mana. Negara justru diam. Memangnya Negara ini mau ke mana…… Kalau ditanya ‘ke mana’ berarti tahu tujuan dan arahnya. Hobbes sendiri yang terkenal dengan gagasan kekuasaan mutlaknya aja masih memberikan ruang bagi tujuan dan arah berdirinya Negara. Memang dilematika masalah Hobbes bagi kita adalah bahwa seluruh tindakan manusia dalam kehidupan Negara sesungguhnya berada dalam lingkaran ketakutan akan kematian.

Bagaimana kasus Syiah? Tampaknya Negara kita bukan lagi Negara Hukum. Hanya di buku pelajaran masih tertulis baik tentang hal ini. Mungkin lebih tepatnya, Negara ini menganut Hukum Minimal. Apa maksudnya ini? Maksudnya Negara kehilangan campur tangan dalam praksis hukum sipil. Negara tidak lebih dari kumpulan individu atau kelompok semata. Ini mengakibatkan relasi Negara dan individu menjadi relasi pertukaran. Pertukaran apa? Ya apa saja. Yang penting kelompok atau individu yang mampu memberikan ‘rasa aman dan tenteram’ [menurut pemahamannya – dalam bahasa Hobbes disebut pengetahuan] justru mendapatkan legitimasi. Legitimasi apa? JELAS SEKALI, legitimasi atas kebebasan yang dilakukan. Dengan kata lain, legitimasi ini menggantikankan legitimasi ketaatan pada prinsip Keadilan dengan kebebasan melalui relasi pertukaran. Akhirnya, pelan-pelan Negara ini berjalan menuju apa yang mau ditolaknya, yakni Libertarianisme Negatif ……….

Tulisan ini dipublikasikan di Cerita Kehidupan dan tag , , , . Tandai permalink.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of