On Death and Dying [Elisabeth Kubler-Ross]

Elisabeth Kelisabet ku-rosubler-Ross, dalam bukunya berjudul On Death and Dying, menyingkapkan sebuah pemahaman yang sunguh-sungguh baru dalam memaknai kematian dan pengalaman atas kematian itu sendiri. Bagi Elisabeth, pengalaman kematian bersifat subjektif. Tak seorang pun dapat menggantikan tempat orang yang sedang mengalami atau mendekati kematiannya. Nah, karena itulah, bagi Elisabeth, makna atau arti kematian (mendekati kematian) hanya dapat diceritakan oleh mereka yang berada dalam situasi tersebut. Dengan kata lain, kita diajarkan soal apa arti/makna kematian oleh mereka yang bergulat dengan situasi tersebut.

Dalam buku tersebut, Elisabeth menuliskan bahwa memang sejauh ini usaha mengatasi kematian – untuk mengatakan bahwa manusia ingin hidup abadi – merupakan usaha yang terus-menerus diperjuangkan. Dalam bidang medis, obat-obatan kita dapat melihat hal ini. Tapi, bagi Elisabeth, usaha-usaha semacam ini justru menghilangkan makna paling esensial dan penting dari kehidupan itu sendiri. Ok, bahwa seseorang dengan stemcell atau apa pun namanya dapat hidup hingga 100 tahun lebih. Hanya harus diingat, kata Elisabeth, bahwa seseorang yang berada dalam situasi mendekati kematian pada dasarnya tidaklah membutuhkan itu semua. Yang paling dibutuhkan oleh mereka adalah perhatian (care).

Kita cenderung beranggapan bahwa usaha medis dalam membantu seseorang memperpanjang usianya merupakan suatu tugas kemanusiaan yang mulia. Ini benar. Namun, perhatian yang menjadi landasan utama seseorang menghadapi kematiannya rupanya kerap dan cenderung untuk dilupakan. Inilah yang menyebabkan sebuah stereotype kematian. Kematian menjadi sesuatu yang menakutkan. Kematian itu habis. Pola dan kerangka berpikir masyarakat modern (termasuk masyarakat kita) sudah dirasuki oleh stereotype semacam ini. Itulah sebabnya, kita dapat memahami usaha-usaha manusia untuk ‘melawan’ hukum alam seperti kelahiran dan kematian. Stemcell, cloning, entah apa lagi namanya merupakan usaha manusia untuk hidup abadi (mungkin karena setelah memakan buah Baik-Buruk di Taman Eden, manusia waktu itu – Adam & Hawa – berusaha untuk memakan Buah Hidup Abadi di taman yang sama).

Untuk memudahkan pemahaman atas buku ini, saya akan memberikan alur pembahasannya. Bagian pertama berisi tentang Ketakutan akan Kematian akibat cara berpikir yang melihat kematian terpisah dari kehidupan. Seolah-olah, kematian berarti habis secara absolut, nothing left, nothing to say. Lho, bukankah kematian justru menjadi bagian dari kehidupan? Itulah yang berusaha dijelaskan oleh Elisabeth. Bagian kedua sampai bagian keenam berisi sikap dan tindakan manusia terhadap kematian. Lantaran kematian dipandang secara negatif, sikap dan tindakan manusia pun mencerminkan anggapan ini. Penyangkalan, penghindaran, penolakan, amarah, adanya posisi tawar-menawar dengan usaha manusiawi yang memperjuangkan kelangsungan hidup (i.e., cloning, stemcell, etc.) yang bukan hanya dilakukan oleh seseorang tapi juga oleh masyarakat yang mengidap anggapan untuk menghindari kematian.

Pada bagian ketujuh dan kedelapan, Elisabeth memaparkan sikap penerimaan terhadap kematian dan harapan bahwa kematian bukanlah akhir segalanya. Pada poin ini, cara pandang terhadap kematian diubah sedemikian drastis. Seseorang yang sedang menghadapi kematian tidak lagi takut tapi menerima secara tulus bahwa kematian adalah awal kehidupan yang baru. Pertanyaan kita, apa yang terjadi dalam sebuah pengalaman mendekati kematian seperti ini sehingga seseorang mampu dan akhirnya memiliki harapan?

Pengalaman kematian bersifat subjektif dalam pengertian tidak seorang pun dapat menggantikan tempat seseorang yang sedang mengalami atau mendekati kematian. Pun pula penerimaan atas kematian tidaklah sama dengan kebahagiaan. Menurut Elisabeth, penerimaan kematian berarti seseorang sudah mampu menerima fakta hidupnya. Bahwa seseorang itu menyadari sepenuhnya kondisi dan situasi yang dia alami. Kata Elisabeth, pada tahap ini, seseorang yang mendekati kematian hanya menginginkan kesenderian. Ungkapan kata sudah hampir kehilangan maknya. Yang ada hanya isyarat, diam, perhatian. Sebuah ungkapan non-verbal menjadi lukisan bahasa yang powerful untuk memahami situasi demikian

Tulisan ini dipublikasikan di Cerita Kehidupan dan tag , . Tandai permalink.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of