Agama di Bawah Payung Akal

credit to Houston Chronicle

Peristiwa Charlie Hebdo telah menggugah kembali kesadaran akan sebuah kekerasan atas nama agama. Dunia pun ramai-ramai mengutuk tindakan tersebut sebagai sebuah tindakan teroris yang sungguh kejam. Tapi, apa yang sebenarnya dilakukan media tersebut sehingga pelaku teror tidak segan untuk membunuh mereka yang dicap telah menodai agama?

Postingan saya kali ini tidak hendak membahas kembali tindakan kekerasan tersebut. Saya yakin pasti sudah banyak yang berbicara dan membahas panjang lebar hal ini. Saya hendak memulainya dari sebuah kritik – jika dikatakan demikian – dari sebuah postingan di facebook saya beberapa waktu lalu. Apa istimewanya postingan tersebut? Gambar yang ditampilkan tersebut sungguh unik lantaran di satu sisi melukiskan ‘kebebasan berekspresi’ (yang tentu saja termasuk menyindir agama), namun di sisi lain melukiskan pula beberapa hal yang tidak diterima dalam ‘kebebasan berekspresi’ sebagaiman terungkap dalam gambar ‘Salam ala NAZI’.

Masyarakat Eropa dan begitu juga Amerika cukup alergi dengan agama. Tidak mengherankan jika nada sindiran dan nada satir sering ditujukan kepada agama, termasuk yang dilakukan oleh media Charlie Hebdo. Di Indonesia, hal seperti ini jelas langsung mendapat reaksi luar biasa plus si pelaku harus dihukum menurut UU Penistaan Agama. Saya tidak tahu persis, apakah hanya Indonesia (dan juga Malasya) yang punya UU seperti ini. Di Eropa, apalagi Perancis (sejak putusnya relasi agama – Negara tahun 1789 di Perancis itu sendiri), kebebasan untuk mengekspresikan diri sangat diapresiasi. Karikatur-karikatur yang dengan gamblang menyindir para tokoh agama tidak dilarang. Ya, inilah Liberte, Egalite, dan Fraternite.
Hanya, mengapa ‘salam NAZI’ begitu diharamkan bahkan mengambar lambang Swastika (sebagai simbol NAZI) di rumah sendiri pun – jika ketahuan – bisa masuk penjara?

Saat saya melihat beberapa komentar terhadap postingan di Facebook tersebut, ada yang bilang, kebebasan berekspresi di Eropa berstandar ganda. Bahkan ada yang bilang munafik. Justry saya berpikiran lain. Bukan standar ganda, bukan pula munafik.
Salam NAZI yang ditunjukkan maupun simbol Swastika yang menyertainya pada dasarnya mencetuskan kembali ingatan berdarah akan peristiwa KEMANUSIAAN yang pernah terjadi. Ya, inilah barometer moralitas sekarang bagi sebagian masyarakat Eropa. Rasa Kemanusiaan menjadi standar utama perilaku moral-etis. Mengapa? Menilik sejarah, tercabiknya rasa kemanusiaan tidak berada dalam periode yang pendek. Perang, wabah, sikap rasis, telah menggores pada ingatan masyarakat Eropa khususnya. Ditambah fakta bahwa agama pun dulu seringkali diterjemahkan secara keliru sehingga menambah ingatan pedih pada agama itu sendiri. Imbasnya makna agama pun dipandang secara sinis. Memang, kalo mendiskusikan makna agama bagi hidup manusia, selalu akan mengerucut pada Yang Ilahi itu sendiri. Tapi, sekali lagi, agama dewasa ini telah diletakkan pada penjelasan bingkai rasio/akal budi. Makna yang tersisa dari makna agama – dengan penjelasan demikian – hanyalah rasa kemanusiaan. Itulah sebabnya dapat dipahami mengapa perilaku rasis dan juga salam NAZI tidak termasuk dalam kebebasan berekspresi. Ini lantaran kebebasan dimaknai bukan sebagai anugerah ilahi melainkan pilihan bebas yang – katanya – mencirikan keunikan manusia sebagai yang khas manusia.
Akhirnya, sebagaimana yang dinyatakan oleh Immanuel Kant, bahwa agama (sekarang ini, penulis) berada dalam batas-batas (kungkungan, penulis) rasio itu sendiri. Kebebasan dan dalam arti di sini adalah upaya visualisasi ilahi dalam bahasa kebebasan manusia tidaklah mereduksi Yang Ilahi ke dalam kefanaan manusia.

Tulisan ini dipublikasikan di Cerita Kehidupan dan tag , . Tandai permalink.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of