C.H. Cooley – Masyarakat Sebagai Cermin

Charles Horton Cooley

Charles Horton Cooley dilahirkan di kota Ann Arbor, di negara bagian Michigan, Amerika Serikat. Di sini ia belajar pada Universitas of Michigan dan lulus pada tahun 1887. Pada universitas yang sama pula ia menjadi mahaguru selama 37 tahun. Selama hidupnya Cooley telah menghasilkan beberapa karya dan diantaranya yang cukup terkenal adalah Human Nature and Social Order (1902), Social Organization (1909) dan Social process (1918). Pemikiran Cooley dalam bidang sosiologi lebih merupakan suatu reaksi terhadap pandangan mekanisme dan organisme dari para sosiolog sebelum Cooley.

Yang pertama menegaskan bahwa mayarakat merupakan himpunan individu-individu yang masing-masing berdiri sendiri dan hanya atas cara lahiriah berinteraksi satu dengan yang lain. Masyarakat itu semu, yang real adalah pribadi-pribadinya. Yang kedua merupakan kebalikan dari yang pertama. Masyarakat itu adalah suatu entitas yang berdiri sendiri, setiap individu memperoleh identitas, statusnya jika berada atau bergabung dalam entitas masyarakat itu. Di luar masyarakat, individu kehilangan jati dirinya, identitasnya. Sama seperti organ-organ tubuh manusia, di luar tubuh suatu organ tidak memiliki fungsi apapun, ia mati.

Cooley melihat bahwa baik individu maupun masyarakat bukan merupakan dua realitas yang berdiri terpisah, melainkan dua sisi atau segi dari realitas yang satu dan sama, yaitu hidup manusia. Sama seperti mekanisme pandangan ini mengakui pentingnya individu pun bersama dengan organisme pandangan Cooley ini juga mengakui pentingnya masyarakat, tidak dibenarkan menceraikan yang satu dengan yang lainnya dan kemudian memutlakkan salah satunya saja. Yang satu tidak mungkin ada tanpa yang lainnya1. Dengan kata lain, di luar masyarakat individu tidak memiliki eksistensi sebagai manusia, sama seperti di luar individu-individu tidak ada masyarakat. Hidup pribadi manusia bercorak sosial, sama seperti kehidupan sosial bercorak pribadi, ada keterjalinan lahir batin dengan pikiran, kemauan dan perbuatan pribadi-pribadi. Kesatuan asasi ini diuraikan dalam pandangan Cooley, yaitu mind is social dan society is mental.

Mind is Social

Dalam bukunya Human Nature and Social Order, Cooley mengatakan bahwa lingkungan sosial memberikan isi konkret kepada kepribadian dan identitasnya yang sepanjang proses ini ‘diri aku’ dan ‘masyarakat’ lahir bersama sebagai anak kembar. Ajaran Cooley ini sekaligus menegaskan bahwa perkembangan seluruh alam pikiran seorang anak merupakan proses sosial. Pada tahap pertama, seorang bayi hanya mampu merasakan menyenangkan atau menyakitkan, ini dikarenakan kesadarannya masih melebur dengan lingkungannya yang dialami sebagai sumber perangsang atau berupa gambaran.

Tahap ini belum ada penggolongan atau pengkategorian yang berbeda, pun juga ia sama sekali asosial dan tanpa kebudayaan. Tapi pada suatu saat ia akan mempertentangkan makhluk hidup dan benda mati. Ini merupakan diferensiasi pertamanya dan merupakan tahap kedua dari reaksi sosialitasnya. Kemudian, terutama dalam situasi konflik, kesadaran dirinya semakin berkembang, ia mulai mengenal diri sebagai ‘aku’ atau ‘ego’ dan akhirnya dalam tiap-tiap situasi interaksi dan kontak dengan orang lain ia semakin menyadari eksistensinya; laki-laki atau wanita, berada dalam anggota keluarga, beragama, berkebangsaan dan seterusnya2.

Perkembangan diri ini diistilahkan oleh Cooley dengan nama Looking-Glass Self di mana ia mendefinisikannya sebagai ‘the self he sees reflected in the behavior of others toward him3. Dengan ‘mempermainkan’ pernyataan Descartes, yaitu ‘Cogito, Ergo sum’, Cooley  mengatakan bahwa tanpa diri orang lain “aku” menjadi hilang, ‘diri’ berpikir tidak membuat aku ada. Kalau saya punya pikiran, artinya bahwa KITA, yaitu masyarakat ada. Jadi kita mengenal diri kita karena kita melihat diri dalam orang-orang lain4. 

Society is Mental

Cooley memahami masyarakat sebagai suatu coherence of minds yaitu suatu kebersamaan dan kebersatuan antara banyak alam pikiran yang pada dasarnya searah atau suatu hidup berbagi di bidang spiritual. Jelasnya, hakikat kehidupan sosial adalah corak mentalnya. Dalam bukunya Social Organization, Cooley menjelaskan pendapatnya ini dalam suatu istilah atau konsep, yaitu Primary Group5. Dengan ini Cooley memaksudkan bahwa alam pikiranlah, yang ada pada setiap individu, yang membentuk suatu masyarakat. Alam pikiran sosial ini telah dibentuk dalam suasana akrab ‘kelompok primer’ (primary group). Teori Cooley ini, yang bertitik tolak dari intersubyektivitas manusia, menempati kedudukan tengahan, yaitu antara ajaran mekanisme dan organisme.

credit to Study.com

Di satu pihak, masyarakat adalah realitas, di lain pihak tempat temu masyarakat harus dicari pertama-tama dalam alam pikiran setiap individu. Kata Cooley,”…masyarakat itu ada dalam pikiranku bagaikan sejumlah pengertian partikular…demikian juga dalam pikiran orang lain masyarakat ada bagaikan sejumlah pengertian yang sama…”6. Interaksi lahiriah yang berlangsung dalam hidup sehari-hari mewujudkan dan mengungkapkan interaksi antara pengertian-pengertian dalam kepala tiap-tiap orang. Masyarakat bersifat mental ! pikiran saya mencerminkan pikiran orang lain. Orang lain berbuat sama seperti yang saya buat di mana ia mengalami hidupnya sebagai pusat kegiatannya.

Kita saling mengenal, memahami maksud orang lain dan mampu bekerja sama karena satu kehidupan budaya menjadikan kita satu. Satu arus kebudayaan mengalir melalui banyak orang, sehingga mereka menjadi tunggal dalam keanekaragaman mereka. Masyarakat adalah satu dan banyak sekaligus. Menurut teori ini, paguyuban desa dipandang sebagai masyarakat atau kelompok yang paling baik7. Sebaliknya dalam masyarakat kota (modern) unsur primary group mengalami disintegrasi di mana para penduduknya menghadapi masalah-masalah penyesuaian sosial yang baru dan juga terutama integrasi kepribadiannya8.

A Missed Articles from my drive

5 Richard Dewey, Op.cit, hal. 837.

6 K.J Veeger, Op.cit,  hal. 116.

7 Ibid.,  hal. 119.

8 Raymond Murray, Introductory Sociology, New York: F.S Crofts & Co., Inc.,  1946, Hal. 445.

2 K.J Veeger, Realitas Sosial, Jakarta: Gramedia, 1985, hal. 112-113.

3 George Lundberg, dkk., Sociology, Revised Edition, New York: Harper and Brothers Publishers, 1958, hal. 224

4 K.J Veeger, Op.cit,  hal. 114.

1 Richard Dewey, Charles Horton Cooley: Pioneer in Psychosociology dalam Harry Elmer Barnes (ed), An Introduction to the History of Sociology, Chicago: University of Chicago Press, 1954, edisi ke-4,  hal. 836.

Tulisan ini dipublikasikan di Tokoh dan tag , , . Tandai permalink.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar
  Subscribe  
Notify of