Waktu dan Kisah

credit to Hipwee

Suatu ketika, ketika sedang duduk santai menikmati kopi di sebuah warung depan sebuah kampus, saya melihat dua orang sedang berpacaran. Mereka tidak sadar jika saya memperhatikan apa yang mereka percakapkan. Atau bahkan mereka sendiri tidak sadar jika sedang dilihat banyak orang di situ. Gurauan, tertawa, mimic wajah manja, senggol—senggolan. Ah, dunia memang milik mereka berdua. Saya sampai merasa bahwa saya cuma kontrak saja di dunia. Sampai suatu saat di mana mereka berdua kemudian saling melontarkan kata….

Si A : “kamu dari desa”.

Si B : “Gak kamu yang dari desa”

Si A : “Gak, kamu”

Begitu seterusnya dengan durasi waktu 2 menitan (kira-kira aja). Kebetulan di depan saya, ada dua teman mereka yang mungkin tadi mendengarkan juga. Saya hanya bilang ke mereka (kebetulan jomblo.. hahaha). Jika dua orang sedang berada dalam situasi kasmaran, waktu tidak lagi dilihat sebagai waktu jam, melainkan waktu fenomenologis. Apa itu? Waktu di mana makna muncul dan dihidupi sedemikian rupa sehingga apa yang disebut keber-ada-an itu sungguh mempesona. TIba-tiba…..

Si C : “Masak sich Pak?. Kalo masalah bicara desa—kota, saya sama Si D bisa 5 jam melakukannya”

Saya hanya bilang, “Berarti kalian rodo kenthir. Dua orang normal saja dalam 5 menit sudah bosan kalau membicarakan hal yang sama”. Dan kami pun tertawa.

Ya, itulah arti hidup. Hanya orang yang masuk ke dalam situasi ini bisa memahaminya. Mengantarkan seorang saudara atau keluarga yang sedang dalam keadaan kritis adalah salah contoh lain dari bagaimana hidup itu bukan hanya sekedar penjumlahan waktu. Ada saat di mana, orang tanpa sadar akan berkata,  “Kok cepat ya” atau “Lho, tidak terasa sudah jam segini”. Mengapa bisa demikian? Karena kita masuk (nyemplung, plunge into) ke dalam apa yang membuat kita merasa betah dan kerasan. Apa yang bisa membuat kita demikian? Ya, apa saja.

Saat masuk mall, kita akan disuguhi banyak pemandangan yang menarik. Obsesi, ambisi, hasrat untuk ini dan itu seakan tertarik semua ke dalam ‘dunia’/pemandangan tersebut. Katanya, meski tidak membeli, asal mata puas. Apakah benar puas? Tidak. Hal ini akan terulang terus. Ini terjadi jika kita memaknai barang sebagai yang ‘bermakna dalam hidup’, bukan ‘berfungsi untuk kehidupan’. Saya hanya tergelitik saja ketika melihat bagaimana reaksi seseorang yang lupa membawa handphone.

credit to Flickr

Seluruh isi tas dibongkar dan digeledah. Ia akan mencoba mengingat dan menyadari kapan terakhir kali memegang handphone. Luar biasa. Tapi, dewasa ini hal seperti itu normal, wajar. Saja jadi paham mengapa banyak film pendek tentang motivasi, tentang keluarga, bertebaran di media sosial. Orang bisa nangis jika melihatnya. Padahal itu kan film pendek yang merangkum perjalanan keluarga atau seseorang selama 20 tahun jadi 3-5 menit dan kita pun bisa menangis. Lha, diri kita sendiri bagaimana?

Sekali-kali perlulah menyepi agar hidup ini bisa diisi dengan hal-hal baru daripada melakukan rutinitas yang sama bertahun-tahun, kita malah seperti robot yang punya daging. Saya jadi paham uangkapan bahwa agama hanya untuk orang yang takut neraka, tapi spiritualitas adalah untuk orang yang sudah keluar dari neraka. Sebuah peribahasa dari salah satu suku Indian (jika tidak salah). Hanya orang yang bangkit dari pahitnya hidup mampu memaknai hidup dengan baik, begitulah kira-kira pesannya.

Tulisan ini dipublikasikan di Cerita Kehidupan dan tag , , , . Tandai permalink.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

avatar
  Subscribe  
Notify of